FaktaHari – 24 Oktober 2026 | Jakarta – Adaptasi live-action terbaru dari waralaba legendaris street fighter akhirnya tiba di bioskop seluruh dunia, termasuk Indonesia, pada Oktober 2026. Film yang disutradarai Kitao Sakurai ini mencoba mengangkat kembali kisah klasik Ryu, Ken, dan Chun-Li ke layar lebar setelah kegagalan film tahun 1994 dan 2009. Namun, sambutan penonton dan kritikus tampaknya terbelah: ada yang memuji kesetiaan pada materi sumber, ada pula yang mengkritik eksekusinya yang dianggap berantakan.
Berlatar tahun 1993, film ini mengisahkan pertemuan kembali Ryu (Andrew Koji) dan Ken Masters (Noah Centineo) setelah lima tahun berpisah akibat peristiwa traumatis. Mereka direkrut oleh Chun-Li (Callina Liang) untuk mengikuti World Warrior Tournament yang diselenggarakan oleh diktator M. Bison (David Dastmalchian). Di balik turnamen tersebut, ternyata ada konspirasi jahat untuk menyerap kekuatan para petarung. Cerita juga menyoroti dendam Chun-Li atas kematian ayahnya, meski beberapa kritikus menilai alur ini kurang dieksplorasi.
Dari segi visual, street fighter menawarkan adegan pertarungan yang dinamis dan koreografi laga yang memukau. Penggunaan flashback dalam format animasi menjadi salah satu daya tarik tersendiri, mengingatkan pada gaya Quentin Tarantino di Kill Bill. Namun, transisi antara adegan live-action dan animasi terkadang terasa janggal. Selain itu, humor yang diselipkan sering kali dianggap norak dan terlalu berlebihan, bahkan beberapa lelucon dinilai sudah usang dan seksis.
Para pemain tampil cukup antusias, meski akting mereka cenderung berlebihan sesuai dengan gaya film kartun. Jason Momoa sebagai Blanka mendapat sorotan karena penampilannya yang konyol, sementara 50 Cent sebagai karakter pendukung juga menuai kritik karena aktingnya yang dianggap datar. Di sisi lain, chemistry antara Andrew Koji dan Noah Centineo sebagai Ryu dan Ken berhasil menghadirkan nuansa persaudaraan yang emosional.
Secara komersial, street fighter belum menunjukkan performa gemilang. Di India, film ini hanya meraup Rs 7,50 crore pada pekan pertama, tertinggal dari Mortal Kombat 2. Meski promosi gencar dilakukan dengan melibatkan bintang lokal Vidyut Jammwal, antusiasme penonton tampaknya masih rendah. Para analis memperkirakan bahwa film ini perlu mempertahankan momentum di pekan kedua untuk mencapai hasil akhir yang memuaskan.
Di Portugal, antusiasme sedikit lebih tinggi. Antrean penonton terlihat pada acara premiere di Lisbon pada 14 Oktober 2026, yang dihadiri sejumlah selebriti lokal. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana street fighter berusaha menghidupkan kembali nostalgia era 90-an melalui musik, mode, dan referensi budaya pop.
Secara keseluruhan, street fighter 2026 adalah film yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, ia berhasil menangkap esensi permainan video dengan adegan laga yang seru dan visual yang memikat. Di sisi lain, eksekusi cerita yang berantakan, humor yang tidak selalu tepat, dan pengembangan karakter yang dangkal membuatnya sulit untuk benar-benar dinikmati. Apakah film ini akan menjadi kultus seperti pendahulunya, atau justru tenggelam dalam tumpukan blockbuster biasa? Waktu yang akan menjawab.
Yang jelas, street fighter tetap menjadi waralaba yang magnetis. Para penggemar setia mungkin akan tetap memberikan kesempatan, sementara penonton awam mungkin akan merasa asing dengan kekonyolan yang disajikan. Bagaimanapun, film ini adalah bukti bahwa adaptasi video game masih menjadi tantangan tersendiri bagi Hollywood.
