Berita  

Gempa M7,0 Guncang Tibet, 18 Tewas; BMKG Pastikan Tak Berdampak Tsunami ke Indonesia

Gempa M7,0 Guncang Tibet, 18 Tewas; BMKG Pastikan Tak Berdampak Tsunami ke Indonesia
Gempa M7,0 Guncang Tibet, 18 Tewas; BMKG Pastikan Tak Berdampak Tsunami ke Indonesia

FaktaHari – 23 Oktober 2026 | Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang wilayah Dataran Tinggi Tibet, Tiongkok, pada Kamis (22/10/2026) pukul 21.33 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia. Episenter gempa terletak di darat, sekitar 183 kilometer timur laut Nagqu, dengan kedalaman 10 kilometer.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas penyesaran di zona graben Plateau-Tibet dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault). “Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami di wilayah Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis. Hingga pukul 22.15 WIB, BMKG belum mendeteksi adanya gempa susulan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Meskipun tidak berdampak tsunami ke Indonesia, gempa di Tibet ini menimbulkan korban jiwa. Laporan dari China Central Television (CCTV) menyebutkan setidaknya 18 orang tewas akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,0 tersebut. Sementara itu, Badan Penanggulangan Darurat Kota Nagqu melaporkan 16 orang meninggal dunia dan 32 lainnya luka-luka, dengan 11 luka serius dan 21 luka ringan. Data ini masih terus berkembang seiring proses evakuasi dan pendataan.

Pusat gempa berada di wilayah Kabupaten Nagqu, Tibet utara, yang jarang penduduknya. Menurut data Pusat Jaringan Gempa Bumi China (CENC), ketinggian rata-rata wilayah dalam radius 5 kilometer dari pusat gempa mencapai sekitar 4.864 meter di atas permukaan laut. Gempa ini menjadi yang terkuat mengguncang China sejak Januari 2024. Getaran juga terasa hingga Lhasa, ibu kota Tibet, yang berjarak sekitar 400 kilometer dari pusat gempa.

Sejumlah rumah di desa-desa terdekat dilaporkan mengalami retakan. Video yang dirilis media resmi setempat memperlihatkan warga bergegas meninggalkan rumah dan mencari perlindungan di luar bangunan atau di dalam mobil. Seorang warga mengaku terbangun akibat guncangan kuat dan mendengar rumahnya berderit. Tim pemadam kebakaran dan penyelamat setempat telah dikerahkan menuju wilayah terdampak.

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengeluarkan peringatan kuning terkait risiko korban jiwa dan peringatan oranye untuk kerugian ekonomi. USGS memperkirakan kerugian ekonomi kurang dari 1% dari PDB Tiongkok, namun peringatan oranye menandakan kemungkinan kerusakan signifikan yang memerlukan respons regional atau nasional. Otoritas Tiongkok telah mengaktifkan respons darurat Tingkat II, yang diberlakukan untuk bencana gempa serius dengan magnitudo 6,5 hingga di bawah 7,0.

Data CENC juga mencatat serangkaian gempa susulan dengan magnitudo sekitar 3 hingga 4 di wilayah sekitarnya. Sebagai perbandingan, pada 2010 gempa magnitudo 7,1 mengguncang Yushu, Provinsi Qinghai, yang berbatasan dengan Tibet, dan menewaskan sedikitnya 2.698 orang serta menyebabkan hampir 300 orang hilang.

Di Indonesia, gempa juga menjadi perhatian di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah Provinsi NTT tengah mengaudit penggunaan dana bantuan kemasyarakatan Presiden (Banpres) sebesar Rp200 miliar untuk penanganan gempa di NTT. Sekretaris Daerah NTT, Fransiskus Sales Sodo, mengungkap bahwa dari alokasi Rp40 miliar untuk Pemprov NTT, sekitar 70 persen atau Rp28 miliar telah digunakan dan ditransfer ke perangkat daerah. Delapan kabupaten terdampak masing-masing menerima Rp20 miliar. “Tidak semua Rp28 miliar itu dimanfaatkan, ada yang dikembalikan juga ke kas daerah,” jelasnya. Setelah masa tanggap darurat berakhir, pemerintah daerah akan menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD untuk penanganan lanjutan.

Dengan demikian, gempa M7,0 di Tibet menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, terutama di wilayah rawan gempa seperti Indonesia. Meskipun BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami di Indonesia, dampak di lokasi kejadian sangat signifikan. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dan tidak mudah terpancing isu yang tidak jelas kebenarannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *