Berita  

Desil 1 dan Wajah Baru Mobilitas Sosial: Dari Pesantren hingga Rekening Bank

FaktaHari – 23 Oktober 2026 | Istilah desil 1 kembali mencuat dalam perdebatan publik Tanah Air. Kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah ini menjadi sorotan setelah pemerintah meluncurkan program pembukaan rekening massal bagi 25 juta warga, serta munculnya isu akses pendidikan bagi santri dari keluarga kurang mampu. Di tengah kemeriahan Hari Santri, dua peristiwa yang tampak tak berhubungan justru menyingkap satu benang merah: nasib anak-anak dari desil 1 yang terus berjuang menembus sekat sosial.

Sepekan sebelumnya, ruang publik diramaikan isu Universitas Indonesia (UI) yang disebut memprioritaskan lulusan pesantren tanpa tes. Klaim seorang mantan dosen dalam sebuah podcast itu langsung dibantah pihak kampus. UI menegaskan bahwa penerimaan mahasiswa dilakukan secara objektif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan. Klaim tersebut dinilai tidak memiliki dasar bukti. Namun, di balik polemik itu, tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa ketika anak dari desil 1 berhasil menembus kampus bergengsi, yang lebih dulu muncul justru kecurigaan?

Padahal, pesantren telah lama menjadi jalur mobilitas sosial paling tua dan paling murah bagi anak-anak dari keluarga termiskin. Sejak dulu, pesantren menerima siapa saja, sering kali tanpa menanyakan kemampuan membayar. Mereka yang tak sanggup membayar menebusnya dengan khidmah: membantu di ndalem, menggarap sawah kiai, atau menimba air untuk wudu jemaah. Dari jalan sederhana itu lahir guru ngaji, kiai kampung, hingga pejabat negara. Otobiografi KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-Orang dari Pesantren (1974), bahkan dibuka dengan potret masa kecil yang menyentuh: sepasang sepatu pun terlalu mewah untuk dimimpikan. Dari langgar dan pondok, anak yang tak berani bermimpi tentang sepatu itu kelak menjadi Menteri Agama Republik Indonesia.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut ada sekitar 42.000 pondok pesantren di bawah Kementerian Agama. Bila mayoritas santrinya berasal dari desil 1 dan kelompok bawah lainnya, pesantren adalah salah satu jaring pengaman pendidikan terbesar yang dibangun masyarakat sendiri, jauh sebelum negara menaruh perhatian. Sosiolog Pierre Bourdieu lewat gagasan ragam modal menjelaskan mekanisme ini: anak dari keluarga miskin datang nyaris tanpa modal ekonomi, tetapi selama mondok ia mengumpulkan modal budaya (ilmu, kefasihan membaca kitab, adab, sanad keilmuan) dan modal sosial (jaringan kiai dan alumni). Pada waktunya, modal-modal itu dikonversi menjadi kedudukan dan penghidupan. Itulah mekanisme naik kelas yang senyap.

Al-Qur’an pun memberi dasar yang lebih tua. QS al-Mujadilah ayat 11 menegaskan bahwa Allah mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang berilmu beberapa derajat. Al-Qurthubi memaknai derajat itu sebagai pahala di akhirat sekaligus kemuliaan di dunia. Sayangnya, jalur mulia ini kini ditekan dari tiga arah: direduksi menjadi pelatihan siap kerja, dicurigai ketika santri naik terlalu tinggi, dan dirusak dari dalam ketika pesantren gagal menjadi ruang aman.

Di sisi lain, pemerintah tengah menyiapkan program satu orang satu rekening bagi 25 juta warga berusia di atas 17 tahun yang masuk kelompok desil 1 hingga desil 4. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan anggaran sebesar Rp 1,28 triliun disiapkan untuk setoran awal Rp 50.000 per orang. Program ini menargetkan peningkatan inklusi keuangan dari sekitar 93 persen menjadi mendekati 99 persen. Data calon penerima disiapkan oleh BRI dan Bank Syariah Indonesia (BSI) dengan mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) serta Badan Pusat Statistik (BPS).

Airlangga menegaskan program ini bukan sekadar penambahan jumlah rekening. Tujuannya adalah efektivitas penyaluran bantuan dan mendorong kegiatan produktif. “Ini kami akan dorong untuk efektivitas penyaluran bantuan dan kegiatan produktif. Jadi bukan soal hanya pembukaan rekening,” ujarnya dalam Rakornas TPAKD di Jiexpo, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Desil sendiri merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan relatif ke dalam 10 kelompok. Desil 1 mencakup kelompok dengan kesejahteraan terendah, sedangkan desil 10 adalah yang tertinggi. Status desil menentukan jenis bantuan yang dapat diterima. Masyarakat yang berada di desil 1 hingga 4 menjadi prioritas penerima bansos reguler. Jika peringkat desil naik ke level 6 hingga 10, seseorang tidak lagi berhak menerima bansos reguler. Data desil bersumber dari DTKS Kemensos yang disinergikan dengan Regsosek BPS. Masyarakat dapat mengecek status desil melalui situs Cek Bansos Kemensos dengan memasukkan NIK KTP dan kode verifikasi.

Dengan demikian, baik program rekening bank maupun peran pesantren sama-sama menyasar kelompok desil 1. Keduanya adalah upaya mengangkat martabat anak-anak dari keluarga termiskin. Namun, tantangan tetap ada: jangan sampai kecurigaan terhadap keberhasilan mereka justru mematahkan semangat mobilitas sosial yang telah lama dirawat. Sudah saatnya Hari Santri dan program inklusi keuangan berjalan seiring, memastikan bahwa desil 1 bukanlah takdir, melainkan titik awal untuk naik kelas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *