FaktaHari – 19 Oktober 2026 | Krisis indonesia wildfires yang melanda Pulau Borneo dan Sumatra terus menunjukkan dampak yang meluas dan kompleks. Kebakaran hutan dan lahan yang diperparah oleh fenomena El Niño ini tidak hanya menciptakan polusi udara berkepanjangan yang menutupi langit Asia Tenggara, tetapi juga memicu operasi penyelamatan darurat terhadap satwa liar yang terancam punah. Dalam beberapa minggu terakhir, puluhan orangutan kritis telah dievakuasi dari habitat yang terbakar, sementara negara-negara tetangga bergerak untuk membantu memadamkan api yang berkobar di wilayah terpencil.
Krisis indonesia wildfires ini telah memicu musim polusi yang berlangsung berbulan-bulan, menutup sekolah-sekolah, memicu lonjakan penyakit pernapasan pada manusia dan hewan, serta membatasi aktivitas luar ruangan di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Timor Leste. Pada hari Minggu, tingkat polusi kembali berkisar dari tidak sehat hingga sangat tidak sehat di seluruh wilayah, menyelimuti banyak area di Asia Tenggara bagian selatan dengan kabut asap beracun. Pemantau kualitas udara berbasis di Swiss, IQAir, kembali menempatkan Singapura dan Kuala Lumpur di antara sepuluh kota besar paling tercemar di dunia pada Minggu sore.
Di tengah bencana ekologis ini, upaya penyelamatan satwa liar menjadi sorotan. Badan konservasi Kalimantan Barat bersama organisasi nirlaba Indonesia YIARI melaporkan bahwa tim telah mengevakuasi 51 orangutan dari berbagai lokasi di provinsi tersebut sejak 6 Agustus hingga 19 Oktober. Namun, angka dari Kementerian Kehutanan Indonesia pekan ini mengisyaratkan bahwa jumlah orangutan yang diselamatkan dalam beberapa bulan terakhir di Kalimantan bisa mencapai 96 ekor. Perbedaan angka ini masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak berwenang.
Pada hari Sabtu, tiga lembaga konservasi berhasil menyelamatkan seekor orangutan jantan berusia 20 tahun di Desa Hampangen, Kalimantan Tengah, di Pulau Borneo. “Proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati,” ujar pernyataan bersama lembaga-lembaga tersebut. Selain evakuasi, delapan orangutan yang sebelumnya diselamatkan dari area terdampak kebakaran di Kalimantan Barat telah dilepasliarkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu setelah menjalani pemeriksaan kesehatan dan perawatan intensif.
Dampak indonesia wildfires juga merambah sektor pariwisata. Otoritas Indonesia telah membatasi akses wisatawan ke titik pandang populer Penanjakan di Gunung Bromo, Jawa Timur, karena kebakaran hutan yang belum terkendali di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pembatasan mulai berlaku pukul 21.30 waktu setempat pada Sabtu malam, membatasi perjalanan hingga Lemah Pasar sampai pemberitahuan lebih lanjut. Kebakaran dilaporkan terjadi di dekat Pusung Dawa, Probolinggo, pada 13 Oktober dan menyebar ke taman nasional. Api sempat dikendalikan pada hari berikutnya, namun berkobar kembali pada 15 Oktober, menewaskan empat petugas pemadam kebakaran dan relawan serta melukai dua orang lainnya secara serius.
Kementerian Kehutanan melaporkan 270 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di seluruh negeri hingga pukul 21.00 Sabtu, dengan Kalimantan Tengah mencatat angka tertinggi sebanyak 92 titik. Sementara itu, dampak asap juga mengganggu sekitar 2.400 penerbangan di Indonesia sejak pertengahan Agustus. Warga di Borneo bahkan telah menggugat pemerintah Indonesia, menuduh kelalaian dalam penanganan kebakaran.
Menghadapi situasi ini, Malaysia menawarkan bantuan untuk memerangi kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap tebal di seluruh kawasan. Menteri Luar Negeri Malaysia, Datuk Seri Mohamad Hasan, menegaskan bahwa Malaysia tidak bisa tinggal diam. “Kita tidak bisa hanya duduk diam dan tidak melakukan apa-apa,” ujarnya. Malaysia menawarkan untuk mengerahkan helikopter dan pesawat pembom air guna membantu memadamkan api. Namun, Mohamad memperingatkan bahwa jarak pandang yang sangat buruk, dilaporkan di bawah 50 meter di area terdampak, dapat menghambat operasi pemadaman udara dan membahayakan pilot.
“Pesawat tidak dapat terbang karena kabut sangat tebal, dengan jarak pandang kurang dari 50 meter. Indeks Pencemar Udara (API) di Kalimantan juga telah mencapai 1.000, menunjukkan situasi yang sangat parah,” katanya. Ia menekankan bahwa keselamatan pilot dan personel lainnya harus menjadi prioritas utama. “Kita harus berhati-hati. Kita tidak bisa memaksa pilot terbang dalam kondisi berbahaya. Kita tidak akan melakukan itu,” tegasnya. Diskusi antara lembaga dari kedua negara sedang berlangsung untuk menentukan dukungan yang layak diberikan, dan hasilnya akan disampaikan kepada Kabinet Malaysia untuk disetujui.
Krisis indonesia wildfires tahun ini disebut sebagai yang terburuk sejak 2015, didorong oleh kekeringan El Niño dan kerusakan lahan gambut. Pusat cuaca ASEAN telah menaikkan peringatan kabut asap tertinggi untuk Asia Tenggara bagian selatan karena asap berbahaya terus melintasi batas negara. Situasi ini menuntut respons kolektif dan tindakan cepat dari semua pihak untuk melindungi kesehatan masyarakat, melestarikan keanekaragaman hayati, dan memulihkan kualitas udara di kawasan.
Dengan evakuasi orangutan yang terus berlanjut, upaya pemadaman yang terkendala jarak pandang ekstrem, serta dampak sosial-ekonomi yang meluas, krisis ini menjadi pengingat keras akan urgensi pengelolaan lingkungan dan kerja sama regional. Tanpa tindakan terpadu, kabut asap dan kerusakan ekologis akan terus berulang, mengancam tidak hanya Indonesia tetapi juga stabilitas lingkungan di seluruh Asia Tenggara.
