FaktaHari – 19 Oktober 2026 | Kabar duka menyelimuti dunia pariwisata Sumatera Barat. Kawasan wisata air terjun robo di Nagari Harau, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, resmi ditutup sementara setelah insiden tragis yang merenggut nyawa seorang wisatawan. Peristiwa nahas tersebut terjadi pada Kamis sore, 15 Oktober 2026, sekitar pukul 15.45 WIB, ketika korban bernama Windy Rahma Putri (25), perempuan asal Padang Pariaman, tergelincir saat mandi di area aliran air terjun bersama teman-temannya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kronologi kejadian bermula saat korban dan teman-temannya tengah menikmati keindahan alam di kawasan air terjun robo. Dalam video amatir yang sempat beredar luas di media sosial, Windy terlihat mengenakan baju abu-abu, celana hitam, dan kerudung senada. Ia tampak merebahkan tubuhnya di atas bebatuan sambil menikmati suasana. Namun, saat korban berusaha mengubah posisi tubuh dan menggerakkan kakinya, ia kehilangan keseimbangan. Windy sempat mencoba meraih temannya yang berada di dekatnya, tetapi upaya tersebut gagal. Tubuhnya terjatuh ke bagian bawah air terjun yang curam.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Padang, Abdul Malik, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, laporan kejadian diterima petugas sekitar pukul 17.27 WIB pada hari yang sama. “Pada hari Kamis, tanggal 15 Oktober 2026, sekitar 15.45 WIB, survivor tergelincir saat mandi-mandi di air terjun Robo Nagari Harau Kabupaten 50 Kota. Ia diduga tenggelam dan hanyut,” ujar Abdul Malik. Tim SAR gabungan langsung dikerahkan untuk melakukan pencarian di sekitar lokasi kejadian, menyisir kawasan air terjun dan area yang diperkirakan menjadi jalur hanyutnya korban. Namun, upaya pencarian pada hari pertama belum membuahkan hasil.
Baru pada Jumat pagi, 16 Oktober 2026, sekitar pukul 10.45 WIB, tim SAR gabungan berhasil menemukan jasad Windy dalam kondisi meninggal dunia. Petugas langsung melakukan evakuasi terhadap korban. “Korban berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan pada pukul 10.45 WIB dalam kondisi meninggal dunia, dan petugas di lapangan langsung melakukan proses evakuasi,” jelas Abdul Malik.
Menindaklanjuti insiden tersebut, pihak berwenang memutuskan untuk menutup sementara akses ke kawasan air terjun robo. Kepala Polsek Harau, AKP Yusmedi, menjelaskan bahwa penutupan tersebut merupakan keputusan bersama semua pihak berwenang di tingkat kecamatan dan kabupaten. “Penutupan akses Air Terjun Robo dilakukan bersama pak camat, dinas pariwisata, jajaran kepolisian, Babinsa, dan BPBD yang langsung turun ke lapangan,” kata Yusmedi kepada awak media pada Minggu, 18 Oktober 2026. Keputusan ini diambil setelah melalui evaluasi langsung dan koordinasi intensif bersama jajaran pemerintah daerah dan instansi terkait.
Air Terjun Robo sendiri dikenal memiliki pesona alam yang memukau dengan pemandangan perbukitan batu kapur yang asri, tebing curam, dan aliran air alami yang jernih. Namun, di balik keindahannya, medan di kawasan ini tergolong berbahaya. Bebatuan di sekitar air terjun cukup berlumut dan licin, sementara jeram atau aliran air deras dengan sudut kemiringan tinggi menuju aliran di bawahnya. Berbeda dengan air terjun lain di Lembah Harau seperti Sarasah Bunta atau Sarasah Aka Barayun yang memiliki tebing tegak sangat tinggi, Air Terjun Robo memiliki karakteristik bertingkat di atas bebatuan tebing dengan ketinggian sekitar 70 meter dari bagian atas bukit. Korban dilaporkan tergelincir dari ketinggian sekitar 25 meter sebelum terseret arus deras dan hilang tenggelam.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi para pengunjung agar selalu berhati-hati saat beraktivitas di kawasan air terjun, terutama di area bebatuan yang licin dan curam. Keindahan alam memang memikat, tetapi keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama. Satu langkah yang salah bisa berakibat fatal. Pihak pengelola dan pemerintah daerah diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan di objek wisata tersebut, termasuk pemasangan rambu peringatan, jalur evakuasi, dan peningkatan pengawasan. Sementara itu, masyarakat diimbau untuk sementara waktu tidak mengunjungi kawasan air terjun robo hingga proses evaluasi dan perbaikan selesai dilakukan. Tragedi ini hendaknya menjadi momentum bagi semua pihak untuk lebih peduli terhadap aspek keselamatan wisata alam, agar keindahan yang ditawarkan tidak berubah menjadi petaka.
