FaktaHari – 18 Oktober 2026 | Musim hujan tahun ini diprediksi datang lebih lambat dari biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa awal musim hujan 2026/2027 akan mundur di 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia. Fenomena El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif menjadi penyebab utama keterlambatan ini. Meski demikian, potensi banjir tetap mengintai, terutama di Jawa Timur, karena hujan yang turun bisa sangat lebat dalam waktu singkat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 10 kabupaten di Jawa Timur yang memiliki riwayat banjir terbanyak. Kabupaten Bojonegoro menempati urutan pertama, disusul Tuban dan Pasuruan. Banjir di wilayah ini dipicu oleh luapan sungai, curah hujan tinggi, serta infrastruktur pengendali air yang belum optimal. Data BPBD Bojonegoro mencatat sepanjang 2025 terjadi 55 banjir luapan sungai, 12 banjir genangan, dan enam banjir bandang. Luapan Sungai Bengawan Solo dan anak-anak sungainya menjadi penyebab utama.
Kabupaten Tuban juga kerap dilanda banjir bandang akibat curah hujan tinggi di kawasan hulu seperti Grabagan. Pemerintah daerah berupaya mengoptimalkan pengerukan sedimentasi dan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Sementara itu, di Pasuruan, luapan Sungai Welang dan Sungai Dermo pernah menyebabkan banjir besar. Pada 17 Februari 2025, luapan Sungai Welang menggenangi Desa Karangketug, Kecamatan Gadingrejo, dengan 867 kepala keluarga (KK) atau 2.392 jiwa terdampak. Beberapa hari kemudian, 23 Februari 2025, luapan Sungai Dermo kembali memicu banjir di Kecamatan Bangil yang merendam 16 desa di enam kecamatan.
Lamongan juga tidak luput dari ancaman banjir. Kenaikan debit Sungai Bengawan Solo dan Bengawan Jero sering menyebabkan genangan di permukiman dan pertambakan. Pada 24-25 Januari 2025, banjir merendam sejumlah wilayah seperti Babat, Laren, Maduran, Karanggeneng, Kalitengah, dan Glagah. Memasuki akhir 2025 hingga Januari 2026, BPBD Lamongan mencatat 44 desa di lima kecamatan terdampak, dengan 4.986 rumah terendam dan 4.861 KK atau 20.850 jiwa terdampak.
Di Gresik, banjir akibat luapan Kali Lamong menjadi masalah berulang. Pada Senin, 9 Juni 2025, hujan deras selama lebih dari tiga jam menyebabkan debit air sungai meningkat dan meluap ke permukiman. Banjir tidak hanya menggenangi rumah, tetapi juga memutus akses jalan dan merendam lahan pertanian produktif. Kejadian ini menunjukkan bahwa meskipun musim hujan mundur, intensitas hujan yang tinggi tetap dapat memicu bencana.
BMKG memprediksi bahwa musim hujan 2026/2027 akan berlangsung lebih pendek dari normalnya di 482 ZOM atau sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia. Namun, curah hujan diperkirakan normal hingga lebih basah di beberapa wilayah. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir dan tanah longsor. Pemerintah daerah perlu meningkatkan kesiapsiagaan dengan membersihkan saluran air, memperkuat tanggul, dan menyiapkan jalur evakuasi.
Selain itu, penting bagi warga untuk memantau informasi cuaca dari BMKG dan BPBD setempat. Mitigasi bencana harus dilakukan secara berkelanjutan, terutama di daerah rawan banjir seperti Bojonegoro, Tuban, Pasuruan, Lamongan, dan Gresik. Dengan persiapan yang matang, dampak buruk dari musim hujan dapat diminimalkan.
Secara keseluruhan, keterlambatan musim hujan bukan berarti tidak ada risiko banjir. Justru, hujan yang turun secara tiba-tiba dengan intensitas tinggi dapat memperparah kondisi. Masyarakat diharapkan tetap siaga dan proaktif dalam menghadapi musim hujan yang tidak menentu ini.
