FaktaHari – 17 Oktober 2026 | Setelah lebih dari tiga dekade sejak film live-action pertama, Hollywood kembali mencoba peruntungan dengan waralaba legendaris Capcom. Street Fighter 2026 akhirnya tiba di bioskop dengan sutradara Kitao Sakurai, dan tampaknya kali ini para pembuat film belajar dari kesalahan masa lalu. Alih-alih memaksakan cerita serius yang tidak cocok dengan dunia penuh keanehan, film ini memeluk absurditas sumbernya dan menyajikannya sebagai tontonan yang jujur dan menyenangkan.
Film ini berpusat pada Ryu (Andrew Koji) yang menghilang setelah memenangi World Fighting Tournament karena takut akan kekuatan Hado yang gelap dalam dirinya. Enam tahun kemudian, M. Bison (David Dastmalchian) menggelar turnamen baru untuk memancing Ryu dan mencuri kekuatannya. Para petarung terbaik dunia pun berkumpul, termasuk Ken Masters (Noah Centineo), Chun-Li (Callina Liang), dan Guile (Cody Rhodes).
Meski trailer menampilkan banyak karakter, cerita sebenarnya lebih fokus pada hubungan persaudaraan antara Ryu dan Ken. Keduanya diadopsi oleh Gouken (Don Lee) dan sempat renggang setelah kematian sang guru. Chemistry antara Koji dan Centineo menjadi salah satu kekuatan utama film ini, menghadirkan momen emosional dan lelucon yang mengalir natural. Sayangnya, karakter lain seperti Honda (Hirooki Goto) hanya muncul sekilas, sementara Akuma (Joe Anoa’i) lebih banyak membayangi daripada tampil nyata.
Sebagai adaptasi, Street Fighter 2026 penuh dengan referensi untuk penggemar setia. Mulai dari dialog yang mengutip game, adegan anime kilas balik, hingga lagu-lagu hits era 90-an seperti “Good Vibrations” yang membangun atmosfer. Humor dalam film ini memang tidak akan dipahami oleh penonton awam, tetapi bagi penggemar, setiap detail adalah easter egg yang memanjakan.
Dari segi aksi, Sakurai berhasil menyajikan pertarungan yang seru meskipun beberapa adegan awal menggunakan cepat editing untuk menutupi keterbatasan aktor. Namun, sebagian besar pemain adalah pesilat profesional, sehingga jurus-jurus ikonik seperti Hadoken dan Shoryuken tampil memukau. Sayangnya, Guile hanya melakukan satu somersault kick sepanjang film, sebuah pengurangan yang mengecewakan.
Masalah terbesar film ini adalah editing yang terkadang membingungkan. Ada adegan di mana Chun-Li tiba-tiba berganti kostum tanpa penjelasan, membuat penonton bertanya-tanya apa yang terjadi. Selain itu, durasi dua jam dirasa terlalu singkat untuk memperkenalkan belasan karakter, sehingga banyak yang hanya menjadi pelengkap.
Meski demikian, Street Fighter 2026 tetap berhasil menjadi hiburan yang jauh lebih baik daripada adaptasi Mortal Kombat 2. Film ini tidak berusaha menjadi karya seni, melainkan dua jam penuh kesenangan bagi penggemar waralaba. Dengan sentuhan anime dan gaya film laga tahun 80-an, Sakurai menciptakan pengalaman menonton yang lugu namun menghibur.
Bagi yang penasaran, ada adegan mid-credits tanpa dialog yang menampilkan M. Bison, Cammy, dan Vega mendekati Sagat. Adegan ini membuka kemungkinan sekuel, meskipun belum ada konfirmasi resmi. Kesuksesan komersial akan menjadi penentu apakah kita akan melihat kelanjutan petualangan para petarung ini.
Secara keseluruhan, Street Fighter 2026 adalah bukti bahwa adaptasi game tidak harus selalu serius. Dengan pendekatan yang tepat, keanehan justru bisa menjadi kekuatan. Film ini mungkin tidak sempurna, tetapi bagi penggemar, ini adalah langkah maju yang patut diapresiasi. Jika Anda mencari tontonan ringan yang penuh aksi dan nostalgia, film ini layak masuk daftar tontonan akhir pekan.
