FaktaHari – 17 Oktober 2026 | Jakarta, 17 Oktober 2026 – Gelombang panas yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir bukan sekadar fenomena cuaca biasa. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa El Nino yang sedang berkembang akan bertahan hingga Februari 2027 dengan intensitas yang belum pernah terjadi sejak 1950. Dampaknya tidak hanya dirasakan di daratan, tetapi juga hingga ke lautan, mengancam ekosistem terumbu karang dan sektor perikanan nasional.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa gelombang panas di Indonesia dipicu oleh kombinasi musim kemarau, langit cerah, dan El Nino yang sangat kuat. Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa curah hujan yang jauh berkurang membuat radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal. “Udara kering saat kelembapan turun dan hujan jarang terjadi membuat tubuh lebih mudah kehilangan cairan. Ditambah permukaan kota yang menyerap panas, suhu terasa lebih menyengat,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (14/10/2026).
Fenomena urban heat island memperparah kondisi di kota-kota besar seperti Jakarta. Aspal, beton, dan minimnya ruang hijau membuat panas tersimpan lebih lama, sehingga malam hari pun terasa gerah. “Bukan karena gelombang panas seperti di negara subtropis, tetapi efek radiasi matahari langsung, kelembapan, dan kondisi perkotaan membuat suhu terasa seperti 40 derajat Celsius,” tambah Guswanto.
Kualitas Udara Memburuk di Surabaya
Di Surabaya, gelombang panas berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya mencatat parameter PM2.5 sebagai yang paling kritis, dengan kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Tidak Sehat pada periode tertentu, terutama pukul 06.00–09.00 WIB. Pakar dari ITS, Arie, menegaskan bahwa cuaca panas bukan sumber langsung PM2.5, melainkan memengaruhi dinamika polutan di udara. “Intensitas sinar matahari yang tinggi dapat meningkatkan pembentukan ozon, sedangkan pemanasan permukaan memengaruhi proses pencampuran udara,” jelasnya, Jumat (16/10/2026).
Sumber emisi lain seperti kendaraan bermotor, industri, pembakaran terbuka, dan debu fugitif turut memperburuk. Paparan polusi udara dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi, batuk, sesak napas, hingga memperburuk asma. Sementara jangka panjang meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan paru-paru.
Ancaman Gelombang Panas Laut dan Pemutihan Karang
Dampak gelombang panas juga merambah ke laut. WMO memperkirakan puncak El Nino terjadi Desember 2026, dengan suhu permukaan laut di Pasifik tropis mencapai rekor tertinggi. Indeks Nino 3.4 melonjak dari 1,6 derajat Celsius di atas normal pada Juni 2026 menjadi 2,5 derajat Celsius pada Agustus, dan diprediksi mencapai 3,7 derajat Celsius pada Oktober–Desember. “Lautan yang menjadi sumber panas tersebut merupakan lautan terhangat yang pernah kami catat. Ada lebih banyak panas yang tersedia untuk dilepaskan,” kata Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, dalam Global Heat Forum di Bangkok.
Peningkatan suhu laut memicu gelombang panas laut (marine heatwaves) yang menyebabkan pemutihan karang massal. Di Raja Ampat, pemutihan karang telah terdokumentasi setelah peristiwa El Nino, meskipun beberapa koloni menunjukkan pemulihan. Namun, ancaman terhadap ekosistem terumbu karang—yang merupakan salah satu ekosistem dengan keanekaragaman hayati tertinggi—semakin nyata. Gelombang panas laut mengganggu simbiosis antara karang dan alga simbionnya, memicu kematian massal yang berdampak pada pendapatan nelayan dan industri perikanan.
Peringatan Gelombang Tinggi di Perairan Indonesia
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi 2,5–4 meter di Samudra Hindia selatan Jawa Timur dan sejumlah perairan lain, berlaku 14–17 Oktober 2026. Nelayan dan operator transportasi laut diminta waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Kombinasi gelombang panas darat dan laut menciptakan tekanan berganda bagi Indonesia. Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan pada jam sibuk, menggunakan masker, dan menjaga hidrasi. Pemerintah daerah didesak memperkuat mitigasi perubahan iklim, termasuk penambahan ruang hijau dan pengendalian emisi.
Dengan El Nino yang diprediksi bertahan hingga awal 2027, gelombang panas dan dampaknya akan terus menjadi tantangan serius. Kolaborasi lintas sektor—dari kesehatan, lingkungan, hingga kelautan—menjadi kunci untuk melindungi masyarakat dan ekosistem dari ancaman yang semakin nyata.











