Berita  

Palangkaraya Dilanda Kabut Asap Kuning Jingga, 1.121 Warga Terserang ISPA

Palangkaraya Dilanda Kabut Asap Kuning Jingga, 1.121 Warga Terserang ISPA
Palangkaraya Dilanda Kabut Asap Kuning Jingga, 1.121 Warga Terserang ISPA

FaktaHari – 16 Oktober 2026 | Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tengah dilanda krisis kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung padam. Pada Jumat (16/10/2026), kabut asap pekat bahkan berwarna kuning jingga, menandakan kualitas udara sudah sangat berbahaya. Warga Palangkaraya mengeluh sesak napas dan menuntut pemerintah menetapkan status bencana nasional.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat konsentrasi partikulat PM2.5 di Palangkaraya pada Kamis (15/10) pukul 17.00 WIB mencapai 1.373,8 µg/m3, masuk kategori Berbahaya. Angka ini jauh di atas ambang batas aman. Meski sempat menurun pada Jumat dini hari menjadi 239,9 µg/m3 (kategori Sangat Tidak Sehat), kualitas udara masih mengancam kesehatan.

Dampak kesehatan pun tak terhindarkan. Puskesmas Bukit Hindu Palangkaraya mencatat 1.121 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sejak Agustus hingga 15 Oktober 2026. Sebanyak 105 kasus dialami balita dan 35 kasus bayi, total 140 kasus pada kelompok rentan. Kepala Puskesmas Bukit Hindu, Hellyanan, menjelaskan mayoritas pasien datang dengan keluhan batuk, pilek, dan demam akibat tingginya partikel debu dan asap.

Salah satu korban adalah Julia, balita berusia 3,5 tahun, yang dilarikan ke puskesmas setelah batuk terus-menerus selama 10 hari. Kondisi ini menggambarkan betapa buruknya kualitas udara bagi kesehatan anak-anak.

Data hotspot (titik panas) di Kalimantan Tengah juga menunjukkan tren mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan, pada Rabu (14/10) pukul 21.00 WIB terdapat 130 hotspot, naik dari 65 titik sebelumnya. Puncaknya, Sabtu (19/9) pukul 23.59 WIB, hotspot di Kalteng mencapai 1.035 titik. Kalteng masih menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak di Indonesia.

BMKG juga memperingatkan potensi hujan ringan di Palangkaraya dan beberapa kota lain di Kalimantan pada Jumat (16/10). Namun, hujan ringan diperkirakan tidak cukup untuk memadamkan karhutla yang melanda lahan gambut. Sementara itu, potensi banjir pesisir atau rob juga mengancam pesisir Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Di tengah situasi darurat ini, warga Palangkaraya mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menetapkan karhutla di Kalimantan sebagai bencana nasional. Randi Patiens, warga Palangkaraya, dalam video yang viral di media sosial, menyatakan, “Kami warga Palangkaraya, warga Kalimantan, sudah tidak tahan lagi pak. Asapnya sudah warna kuning. Tolong jadikan ini sebagai bencana nasional.”

Desakan serupa juga datang dari berbagai kalangan. Mereka menilai status bencana nasional akan mempercepat penanganan dan mendatangkan bantuan lebih besar. Hingga berita ini diturunkan, pemerintah belum memberikan pernyataan resmi terkait permintaan tersebut.

Sementara itu, di dunia olahraga, tim kebanggaan warga Palangkaraya, Isenmulang FC, tengah berjuang di BRI Super League 2026/2027. Meski telah menelan empat kekalahan beruntun, semangat pemain untuk meraih poin pertama tetap membara. Pada pekan kelima, Isenmulang FC akan menantang Persijap Jepara di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, Jumat (16/10/2026) pukul 19.00 WIB. Tim asuhan Mundari Karya ini berharap bisa memetik angka perdana dan bangkit dari dasar klasemen.

Krisis kabut asap di Palangkaraya dan Kalimantan Tengah merupakan bencana lingkungan yang membutuhkan penanganan serius dari semua pihak. Kesehatan masyarakat, terutama bayi dan balita, menjadi taruhan. Pemerintah pusat dan daerah harus bergerak cepat, tidak hanya memadamkan api, tetapi juga menangani dampak kesehatan dan ekonomi. Tanpa tindakan tegas, kualitas hidup warga Palangkaraya akan terus terancam.

Exit mobile version