FaktaHari – 15 Oktober 2026 | Samarinda – Di tengah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Timur, publik dikejutkan oleh kepergian Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud ke Singapura. Perjalanan yang disebut untuk pemeriksaan kesehatan ini menuai kritik tajam karena dinilai tidak peka terhadap penderitaan warga yang terpapar kabut asap. Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Giri Ramanda Kiemas, mengingatkan para pejabat publik agar menjaga sikap dan menunjukkan empati di tengah bencana. “Sikap para pejabat baik eksekutif, legislatif, dan pemangku kepentingan harus dijaga,” tegasnya.
Kritik tidak hanya ditujukan kepada Gubernur Kaltim, tetapi juga kepada istrinya, Syarifah Suraidah, yang mengunggah kalimat motivasi di Instagram saat warga sedang tersiksa asap. Unggahan seperti “Work hard, stay humble” dianggap nirempati dan memicu gelombang kritik warganet. Sementara itu, foto Gubernur Kaltim menikmati sarapan di Singapura beredar luas, memperkuat persepsi kurangnya kepekaan sosial.
Pemerintah Provinsi Kaltim dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membela langkah tersebut. Kepala Diskominfo Kaltim, Ririn Sari Dewi, menjelaskan Rudy telah mendapat izin dari Mendagri Tito Karnavian untuk check-up kesehatan. Wakil Mendagri, Bima Arya Sugiarto, membenarkan hal tersebut. Namun, publik tetap mempertanyakan urgensi perjalanan di tengah darurat karhutla yang melumpuhkan aktivitas dan mengancam kesehatan.
Di sisi lain, Pemprov Kaltim terus berupaya mengendalikan api. Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menyatakan bahwa pemerintah daerah membuka opsi mengusulkan peningkatan status karhutla menjadi bencana nasional jika kebakaran terus meluas. “Pak Gubernur juga koordinasi dengan BNPB untuk meminta tambahan bantuan peralatan pemadaman,” ujar Seno. Sebanyak 65 unit pompa telah didistribusikan, namun titik api masih bermunculan di sejumlah wilayah.
Polda Kaltim juga bergerak di tengah krisis dengan menyiapkan operasi lanjutan pemberantasan sarang narkoba. Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim, Kombes Pol Romylus Tamtelahitu, menegaskan Balikpapan, Samarinda, dan Berau menjadi prioritas. “Tidak ada ruang untuk narkoba. Jika ada aparat yang terlibat, akan kami tindak tegas,” katanya. Operasi ini merupakan tindak lanjut perintah Kapolri dan diharapkan dapat menekan peredaran narkotika di tengah kondisi darurat.
Kontroversi seputar Gubernur Kaltim menjadi pelajaran penting tentang kepemimpinan di masa krisis. Publik menuntut pemimpin yang hadir dan peduli, bukan sekadar menjalankan rutinitas. Di tengah upaya pemadaman karhutla dan pemberantasan narkoba, kepercayaan masyarakat menjadi modal utama yang harus dijaga. Semoga langkah ke depan lebih berorientasi pada kepentingan rakyat.











