FaktaHari – 15 Oktober 2026 | Kelangkaan BBM kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia, dengan Bali dan Jawa Timur menjadi episentrum terbaru. Antrean panjang kendaraan di berbagai SPBU telah berlangsung selama sepekan terakhir, memicu kemacetan parah dan mengganggu mobilitas warga. Di Bali, kelangkaan BBM jenis Pertalite dan Pertamax bahkan mulai berdampak pada sektor pangan, dengan sinyal kenaikan harga sejumlah komoditas pokok di pasar tradisional.
Antrean Mengular dan Dampak Sosial
Di Bali, warga seperti Tommy (30) dan Anas (34) merasakan langsung dampak kelangkaan BBM. Tommy mengaku harus menghadapi antrean kacau saat hendak mengisi bahan bakar motornya di Denpasar, sementara Anas, seorang dosen, terpaksa mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi daring karena kesulitan mendapatkan transportasi. Kelangkaan BBM di Bali terjadi hampir di semua jenis bensin, membuat mobilitas warga lumpuh total. Kondisi serupa juga terjadi di Jawa Timur, khususnya di Jombang. Yusuf, warga Kecamatan Kesamben, mengeluhkan SPBU di Sumobito yang kosong selama tiga hari berturut-turut, memaksanya mencari alternatif lain. Anggota DPR RI Meitri Citra Wardani dari Komisi XIII pun turun gunung untuk melakukan inspeksi ke sejumlah SPBU di Jombang guna menindaklanjuti keluhan warga.
Pemerintah dan Pertamina Berupaya, Namun Kritik Mengalir
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa kelangkaan BBM bukan disebabkan oleh habisnya kuota BBM bersubsidi tahunan. Ia mengklaim telah berkoordinasi dengan Pertamina untuk memulihkan distribusi. Namun, pernyataan tersebut tidak meredakan kekhawatiran masyarakat. Center For Budget Analysis (CBA) melontarkan kritik pedas, menyebut krisis ini sebagai bukti ketidakmampuan manajemen Pertamina. Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, menilai bahwa kelangkaan BBM yang terjadi berulang kali di berbagai provinsi menunjukkan masalah kompetensi kepemimpinan. Ia mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk melengserkan Dirut Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, yang dinilai lambat merespons krisis. “Kelangkaan BBM ini terlalu sering berulang, sudah kayak tur konser. Kalau sekali, itu musibah. Tapi kalau berkali-kali di provinsi yang berbeda, itu masalah kompetensi,” ujar Uchok.
Dampak Ekonomi: Harga Pangan Mulai Naik
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bali melaporkan bahwa sinyal kenaikan harga pangan mulai muncul akibat kelangkaan BBM. Kepala Disperindag Bali, I Gusti Ngurah Wiryanata, menyebutkan bahwa tujuh dari 20 komoditas yang dipantau mengalami kenaikan harga, didominasi produk hortikultura impor antar-pulau yang sangat bergantung pada biaya angkut. Kenaikan tertinggi terjadi pada bawang putih, dari Rp30.000 menjadi Rp30.429 per kilogram. Komoditas lain seperti jeruk lokal, cabai merah besar, dan bawang merah juga ikut merangkak naik. Meskipun secara umum inflasi masih di bawah 0,1 persen, kenaikan ini menjadi peringatan dini bagi stabilitas harga pangan ke depan. Sementara itu, sejumlah komoditas seperti gula, daging babi, telur ayam ras, dan minyak goreng justru mengalami penurunan harga, menunjukkan bahwa dampak kelangkaan BBM belum merata di semua sektor.
Kesimpulan
Kelangkaan BBM di Bali dan Jawa Timur bukan sekadar gangguan distribusi, melainkan telah memicu krisis mobilitas, sosial, dan mulai merembet ke sektor pangan. Antrean panjang di SPBU, keluhan warga, hingga kritik dari berbagai pihak menunjukkan bahwa masalah ini membutuhkan penanganan serius dan terkoordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan Pertamina. Jika tidak segera diatasi, dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk kenaikan harga pangan, dapat mengancam daya beli masyarakat dan stabilitas daerah.











