FaktaHari – 15 Oktober 2026 | Angkatan Udara Italia telah mengambil langkah strategis dengan memulai proses pengadaan enam unit pesawat nirawak (drone) jenis Astore Levante. Pengumuman resmi disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Udara Italia, Jenderal Antonio Conserva, dalam konferensi pers di Roma. Langkah ini menandai era baru bagi kemampuan intai dan serang jarak jauh Italia, menggantikan armada drone MQ-1 Predator buatan Amerika Serikat yang sudah menua.
Drone Astore Levante merupakan produk hasil kerja sama joint venture antara raksasa industri pertahanan Italia, Leonardo, dan perusahaan teknologi pertahanan Turki, Baykar. Pesawat nirawak ini merupakan versi khusus yang dikembangkan dari platform Bayraktar TB3 yang terkenal, dengan spesifikasi yang disesuaikan untuk kebutuhan operasional Italia.
Kontrak pengadaan telah ditandatangani dan mencakup pengiriman tiga sistem, di mana setiap sistem terdiri dari satu stasiun kendali darat dan dua unit drone. Sertifikasi untuk pesawat nirawak baru ini dijadwalkan selesai pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027. Dengan bobot lepas landas maksimum mencapai 1.450 kilogram dan kapasitas muatan hingga 280 kilogram, Astore Levante mampu terbang selama lebih dari 24 jam non-stop, memberikan kemampuan pengawasan dan serangan yang berkelanjutan.
Salah satu aspek yang masih dalam tahap finalisasi adalah pemilihan persenjataan untuk drone Astore Levante. Meskipun secara fundamental drone ini dirancang untuk membawa bom pintar seri MAM buatan Turki dan rudal jelajah mini Kemankes 1 dari Baykar, Italia juga sedang menjajaki opsi dari produsen dalam negeri dan MBDA. Hal ini menunjukkan fleksibilitas platform yang memungkinkan integrasi dengan sistem senjata Eropa.
Di luar perkembangan militer, nama Levante juga menggema di dunia olahraga. Deportivo La Coruña akan menjamu Levante dalam lanjutan La Liga Spanyol pada Jumat, 16 Oktober 2026. Pertandingan yang akan berlangsung di Estadio Abanca-Riazor ini menjadi kesempatan emas bagi Deportivo yang tengah berjuang di papan tengah untuk meraih tiga poin penuh. Levante sendiri datang dengan modal kurang meyakinkan, hanya menghuni peringkat ke-17 klasemen sementara dengan lima poin dari delapan pertandingan.
Menurut analis olahraga, Levante memiliki rekor pertahanan yang buruk di laga tandang, kebobolan rata-rata 2,0 gol per pertandingan. Sementara Deportivo, yang baru promosi, justru tampil solid di kandang dengan hanya kebobolan 1,1 gol per laga. Catatan head-to-head dalam tiga pertemuan terakhir di La Liga juga menunjukkan dominasi Deportivo yang tak terkalahkan, dengan dua kemenangan dan satu hasil imbang. Prediksi kuat mengarah pada kemenangan tuan rumah.
Namun, euforia pertandingan tersebut sempat terusik oleh insiden kericuhan yang melibatkan suporter. Polisi Nasional Spanyol menangkap empat pria berusia 35 hingga 45 tahun yang merupakan suporter ultra Sevilla. Mereka diduga terlibat dalam perkelahian massal beberapa jam sebelum pertandingan jornada 8 melawan Levante di sekitar stadion Ciutat de València. Kericuhan yang melibatkan sekitar 50 suporter radikal dari kedua kubu itu menyebabkan kerusakan pada sebuah toko di dekat stadion. Beruntung, Unit Intervensi Polisi (UIP) yang bergerak cepat berhasil membubarkan massa dan mencegah korban jiwa. Dua dari empat tersangka diketahui memiliki catatan kriminal serupa sebelumnya, dan penyelidikan masih terus berlangsung untuk kemungkinan tersangka baru.
Secara keseluruhan, nama Levante kini hadir dalam dua konteks yang sangat berbeda: sebagai simbol kemajuan teknologi militer Italia dan sebagai klub sepak bola yang tengah berjuang di La Liga. Di satu sisi, Astore Levante menjanjikan peningkatan signifikan dalam kemampuan pengintaian dan serangan presisi Angkatan Udara Italia. Di sisi lain, Levante FC harus segera memperbaiki performa jika ingin menjauh dari zona degradasi. Kedua kisah ini sama-sama menarik untuk diikuti perkembangannya.











