FaktaHari – 14 Oktober 2026 | Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, kembali menjadi sasaran serangan rudal dan drone yang dilancarkan oleh milisi Houthi Yaman. Rentetan serangan yang terjadi sejak akhir pekan lalu telah menewaskan 14 orang dan melukai ratusan lainnya, termasuk dua warga negara Indonesia (WNI) yang mengalami luka ringan. Situasi keamanan yang memanas ini memaksa otoritas setempat memperpanjang penutupan bandara riyadh hingga pemberitahuan lebih lanjut, serta mengganggu jadwal penerbangan, termasuk jemaah umrah asal Indonesia yang menggunakan skema transit.
Serangan pertama terjadi pada Sabtu (10/10/2026) menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang di bandara riyadh. Keesokan harinya, Minggu (11/10/2026), serangan susulan kembali menargetkan bandara yang sama, menewaskan satu warga Pakistan dan melukai 11 orang lainnya. Di antara korban luka, terdapat dua WNI yang merupakan penduduk tetap di Arab Saudi, bukan jemaah umrah. Keduanya, RM (45 tahun) dan ET (32 tahun), telah menjalani perawatan di Rumah Sakit Sulaiman Habib dan diperbolehkan pulang pada hari yang sama.
Menanggapi eskalasi ini, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengimbau seluruh WNI dan jemaah umrah untuk meningkatkan kewaspadaan. Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, meminta agar WNI tetap tenang, mengutamakan keselamatan, menghindari lokasi rawan, membatasi aktivitas yang tidak mendesak, serta hanya mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan otoritas setempat. Imbauan serupa juga disampaikan oleh KBRI Riyadh yang memantau situasi dan berkoordinasi dengan otoritas Saudi.
Penutupan bandara riyadh yang diperpanjang hingga 17 Oktober 2026 berdampak luas pada industri penerbangan. Data analitik penerbangan Cirium mencatat tingkat pembatalan penerbangan di seluruh bandara Arab Saudi mencapai 46,4 persen. Maskapai seperti Gulf Air, Qatar Airways, Etihad Airways, dan EgyptAir membatalkan atau menangguhkan penerbangan menuju Riyadh. Dari Eropa, Lufthansa Group dan Air France-KLM juga memperpanjang penangguhan penerbangan. Dampak ini juga dirasakan jemaah umrah Indonesia yang menggunakan skema transit. Seperti yang dialami Rika, calon jemaah umrah asal Bogor, yang penerbangannya dari Jakarta menuju Jeddah via Mumbai dibatalkan mendadak oleh maskapai IndiGo karena alasan keselamatan.
Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) dan Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) telah mengeluarkan peringatan bagi maskapai untuk berhati-hati saat melintasi wilayah udara Saudi. Organisasi penasihat keselamatan OPSGROUP menyarankan maskapai internasional menghindari koridor selatan Timur Tengah dan mengalihkan rute Eropa-Asia melalui Asia Tengah. Pendiri OPSGROUP, Mark Zee, menilai tingkat serangan intensif terhadap penerbangan sipil ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Situasi keamanan di Riyadh masih fluktuatif. Pada Senin (12/10/2026), Pertahanan Sipil Arab Saudi mengaktifkan sistem peringatan dini nasional setelah potensi serangan udara, namun ancaman dinyatakan berlalu sepuluh menit kemudian. Keesokan harinya, tiga pesawat nirawak (UAV) berhasil dicegat di utara Riyadh. KBRI Riyadh mengimbau WNI untuk tidak mengambil foto atau video, merekam, maupun menyebarkan informasi mengenai penangkisan rudal dan drone di media sosial, karena pemerintah Saudi memberlakukan sanksi bagi pelanggar.
Serangan bertubi-tubi terhadap bandara riyadh ini merupakan eskalasi terbaru dalam konflik berkepanjangan antara koalisi pimpinan Saudi dan milisi Houthi Yaman. Sejak 2015, Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui internasional, sementara Houthi menguasai ibu kota Sanaa sejak 2014. Ketegangan yang meningkat sejak Juli 2026 ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga memberikan tekanan besar pada ekonomi Saudi dan agenda bisnis besar di Riyadh.
Dengan situasi yang masih dinamis, pemerintah Indonesia melalui Kemenhaj, KBRI Riyadh, dan KJRI Jeddah terus memantau perkembangan dan siap memberikan bantuan kepada WNI yang membutuhkan. Jemaah umrah diimbau untuk selalu berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) terkait kondisi terkini dan jadwal penerbangan. Keselamatan dan keamanan WNI tetap menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian keamanan di kawasan Timur Tengah.
