FaktaHari – 12 Oktober 2026 | Panama diguncang gempa bumi dahsyat pada Jumat, 9 Oktober 2026, memicu kepanikan massal dan kerusakan parah di sejumlah provinsi. Pemerintah Panama langsung menetapkan status darurat nasional untuk mempercepat upaya penanganan dan pemulihan pascabencana. Panama earthquake berkekuatan 7,5 skala Richter ini menjadi salah satu gempa terkuat yang pernah tercatat di negara tersebut.
Menurut data dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), pusat gempa terletak sekitar 39 kilometer barat laut Tonosi, Provinsi Los Santos, atau sekitar 60 kilometer dari perbatasan tiga provinsi: Herrera, Los Santos, dan Veraguas. Guncangan kuat terasa hingga ke Panama City, ibu kota yang berjarak lebih dari 200 kilometer dari episenter, membuat ribuan warga berhamburan keluar dari gedung-gedung pencakar langit.
Menteri Kepresidenan Panama, Juan Carlos Orillac, dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan pada Sabtu (10/10) mengumumkan bahwa Presiden Jose Raul Mulino telah membentuk komisi khusus untuk mengoordinasikan operasi bantuan, mengelola sumber daya, dan memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak. “Deklarasi darurat ini memastikan badan-badan pemerintah tetap siaga dan memiliki sumber daya yang diperlukan untuk membantu mereka yang terkena dampak,” ujar Orillac.
Pemerintah juga mendirikan pusat pengumpulan donasi, termasuk di Omar Park, Panama City, serta kantor-kantor pemerintah provinsi yang akan berfungsi sebagai titik pengumpulan tambahan. Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa akibat Panama earthquake, namun sekitar 30 orang telah dirawat karena luka ringan.
Kerusakan dilaporkan meluas di berbagai wilayah. Rumah-rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, jalan raya, dan gedung publik mengalami retak dan ambruk. Di Chitre, ibu kota Provinsi Herrera yang berpenduduk 66.000 jiwa, puluhan rumah rusak dan aliran listrik masih terputus hingga Sabtu. Warga setempat, seperti Aldulfo Quintero (41), mengaku belum pernah mengalami peristiwa seperti ini sebelumnya. “Ini sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Kami tidak siap untuk kejadian seperti ini,” ujarnya saat membersihkan puing-puing tokonya. Ia mengaku sangat khawatir gempa susulan akan terjadi lagi.
Lebih dari 100 gempa susulan telah tercatat setelah guncangan utama, beberapa di antaranya berkekuatan hingga 6,0 skala Richter. Ketakutan akan gempa susulan membuat banyak warga memilih tidur di luar rumah. Yakshuri Castillo (28), warga Chitre lainnya, mengatakan dirinya “syok” saat gempa pertama terjadi. “Saya sangat takut, jadi saya memutuskan tidur di luar bersama keluarga,” katanya.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan atap terminal bus Albrook bergoyang dan jendela gedung-gedung tinggi bergetar hebat. Seorang koresponden Xinhua di Panama City melaporkan guncangan lateral yang kuat saat duduk dan lampu gantung di dalam ruangan berayun dengan intensitas tinggi. Panama earthquake ini jarang terjadi di kawasan tersebut, karena gempa biasa hanya tercatat di Provinsi Chiriqui barat yang berbatasan dengan Kosta Rika.
Otoritas Panama terus melakukan penilaian kerusakan dan mengoordinasikan upaya respons darurat. Komisi yang dibentuk Presiden Mulino akan bekerja sama dengan badan-badan terkait untuk memastikan distribusi bantuan berjalan lancar dan masyarakat yang paling membutuhkan segera mendapatkan pertolongan. Meski tidak ada korban jiwa, dampak psikologis dan kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan oleh Panama earthquake diperkirakan akan membutuhkan waktu pemulihan yang panjang. Warga kini mulai bergotong royong membersihkan puing-puing dan membangun kembali kehidupan mereka, dengan harapan tidak ada lagi guncangan dahsyat yang akan datang.
