Berita  

The Social Reckoning Gagal di Box Office, Hanya Raup Rp 85 Miliar di Akhir Pekan Perdana

The Social Reckoning Gagal di Box Office, Hanya Raup Rp 85 Miliar di Akhir Pekan Perdana
The Social Reckoning Gagal di Box Office, Hanya Raup Rp 85 Miliar di Akhir Pekan Perdana

FaktaHari – 12 Oktober 2026 | Sekuel yang sangat dinantikan dari film ikonik ‘The Social Network’ berjudul ‘The Social Reckoning’ harus menerima kenyataan pahit di pekan pembukaannya. Film yang disutradarai oleh Aaron Sorkin ini hanya berhasil mengumpulkan pendapatan kotor domestik sebesar USD 5,5 juta atau setara dengan sekitar Rp 85 miliar. Angka ini jauh di bawah ekspektasi Sony Pictures yang memperkirakan film tersebut akan meraup antara USD 7 hingga USD 8 juta pada akhir pekan pertamanya. Secara global, ‘The Social Reckoning’ hanya mengumpulkan USD 9 juta, sebuah hasil yang mengecewakan mengingat film pertamanya, ‘The Social Network’, berhasil meraup lebih dari USD 224 juta di seluruh dunia.

Kegagalan ‘The Social Reckoning’ di box office menjadi sorotan utama industri perfilman. Film yang mengangkat kisah nyata Frances Haugen, seorang mantan karyawan Facebook yang membocorkan dokumen internal perusahaan, harus bersaing dengan film horor ‘Other Mommy’ yang justru sukses besar dengan pendapatan USD 27,5 juta di akhir pekan yang sama. ‘Other Mommy’, yang dibintangi Jessica Chastain, berhasil menduduki puncak box office meskipun mendapat ulasan negatif dari kritikus. Hal ini menunjukkan bahwa penonton lebih tertarik pada genre horor yang menghibur ketimbang drama politik yang serius.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan ‘The Social Reckoning’ gagal menarik minat penonton. Pertama, absennya sutradara David Fincher dan aktor Jesse Eisenberg yang memerankan Mark Zuckerberg di film pertama. Sony Pictures sendiri menyebut film ini sebagai ‘companion piece’ atau karya pendamping, bukan sekuel langsung. Kedua, tema yang diangkat dianggap terlalu berat dan tidak memiliki daya tarik sinematik yang cukup untuk layar lebar. Analis box office David A. Gross dari FranchiseRe menilai bahwa cerita tentang intrik perusahaan dan kekuasaan lebih cocok untuk layar televisi daripada bioskop.

Selain itu, ‘The Social Reckoning’ juga harus menghadapi perbandingan yang tak terhindarkan dengan pendahulunya. ‘The Social Network’ dianggap sebagai salah satu film terbaik tahun 2010-an, memenangkan empat Academy Awards, dan memiliki kualitas penyutradaraan yang luar biasa. Tanpa sentuhan Fincher, film ini kehilangan daya tarik visualnya. Kritikus dari The New Yorker, Richard Brody, bahkan menulis bahwa Sorkin tidak mampu melihat melampaui kata-kata di halaman, membuat film terasa datar dan kurang greget.

Di sisi lain, ada juga faktor persaingan yang ketat. Akhir pekan yang sama diramaikan oleh film ‘Verity’ yang meraup USD 11,5 juta, ‘Resident Evil’ dengan USD 8,4 juta, dan ‘Heart of the Beast’ yang mengumpulkan USD 7,1 juta. Pasar film saat ini juga masih dalam masa pemulihan pasca pandemi, di mana penonton lebih selektif dalam memilih tayangan yang akan mereka saksikan di bioskop.

Meskipun mengalami kegagalan komersial, ‘The Social Reckoning’ tetap mendapat pujian dari beberapa kritikus karena keberaniannya mengangkat isu-isu sosial yang relevan. Film ini berhasil menyajikan mekanisme di balik algoritma Facebook yang sengaja dirancang untuk memicu kemarahan dan polarisasi demi keuntungan bisnis. Namun, bagi Sony Pictures, hasil ini jelas menjadi pelajaran berharga. Dengan anggaran produksi sebesar USD 30 juta, film ini masih mungkin untuk mencapai titik impas melalui penjualan hak siar dan platform streaming, meskipun tidak akan pernah mencapai kesuksesan seperti pendahulunya.

Kesimpulannya, kegagalan ‘The Social Reckoning’ menunjukkan bahwa sekuel atau karya pendamping dari film ikonik bukan jaminan kesuksesan. Tanpa elemen-elemen kunci yang membuat film pertama begitu istimewa, serta dengan tema yang terlalu serius dan kurang menghibur, film ini harus rela menjadi salah satu bom box office terbesar tahun ini. Meskipun demikian, film ini tetap menjadi catatan penting tentang bagaimana industri perfilman dan media sosial saling mempengaruhi dalam membentuk opini publik.

Exit mobile version