FaktaHari – 11 Oktober 2026 | Kualitas udara Jambi hari ini berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa pada Sabtu, 10 Oktober 2026, kualitas udara di Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, dan Kabupaten Tebo berada pada kategori berbahaya. Bahkan, ISPU di stasiun pemantauan Bedaro Rampak, Kecamatan Tebo Tengah, mencapai angka 576, jauh di atas ambang batas normal. Kondisi ini dipicu oleh kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin pekat dalam beberapa pekan terakhir.
Gubernur Jambi, Al Haris, menyatakan bahwa pemerintah provinsi telah membuka posko kesehatan sebagai respons cepat terhadap situasi ini. Posko tersebut ditempatkan di halaman Gedung Bank Jambi serta kantor cabang Bank Jambi di kawasan Pasar Jambi. “Dengan kondisi udara seperti ini, dan kabut yang cukup pekat, maka kita buka posko kesehatan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10/2026). Posko ini menyediakan masker dan oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang harus beraktivitas di luar ruangan.
Dampak kesehatan dari buruknya kualitas udara Jambi hari ini mulai terlihat signifikan. Kepala Pelaksana BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi, mengungkapkan bahwa berdasarkan data surveilans Dinas Kesehatan Kota Jambi, jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah menembus 11.539 kasus. Angka ini tercatat sejak periode pemantauan hingga 9 Oktober 2026. “ISPA menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk,” kata Doni kepada awak media, Jumat (8/10/2026).
Selain ISPA, kasus diare dan konjungtivitis juga turut meningkat. Total kasus diare mencapai 1.362 kasus, dengan puncak 59 kasus pada 6 Oktober 2026. Sementara itu, kasus konjungtivitis tercatat 517 kasus, dengan angka harian tertinggi 25 kasus pada 21 September 2026. Meski demikian, Doni menekankan bahwa data tersebut tidak secara otomatis membuktikan seluruh kasus disebabkan langsung oleh karhutla, namun tetap menjadi perhatian serius.
Kementerian Kehutanan terus memperketat pengawasan terhadap karhutla. Berdasarkan pemantauan SiPongi hingga Jumat (9/10) pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 437 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Kalimantan Tengah mencatat hotspot tertinggi dengan 122 titik, disusul Sumatera Selatan 107 titik, dan Jambi 15 titik. Meskipun jumlah hotspot di Jambi relatif lebih rendah dibandingkan provinsi lain, dampak asapnya tetap sangat terasa bagi masyarakat.
Warga Tebo, Syahrul, mengeluhkan kondisi udara yang semakin tidak nyaman. “Kami sebagai warga tentu khawatir dengan kondisi udara seperti ini. Apalagi kalau asap semakin pekat, aktivitas di luar rumah menjadi tidak nyaman,” keluhnya. Ia berharap kondisi ini segera membaik sehingga warga dapat beraktivitas normal kembali.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kegiatan fisik berat, selama kualitas udara Jambi hari ini masih dalam kategori berbahaya. Jika harus keluar rumah, gunakan masker yang sesuai dan tutup pintu serta jendela untuk mencegah masuknya asap. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan dan jantung perlu mendapat perhatian ekstra. Segera cari pertolongan medis jika mengalami gejala seperti sesak napas, batuk memburuk, atau iritasi yang tidak kunjung reda.
Kualitas udara Jambi hari ini menjadi alarm bagi semua pihak bahwa karhutla bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga ancaman kesehatan masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai instansi sangat diperlukan untuk mengatasi situasi ini. Dengan kesadaran dan tindakan bersama, diharapkan kualitas udara dapat segera membaik dan risiko kesehatan dapat diminimalisir.











