Berita  

Kabut Asap Selimuti Jambi, Penerbangan Terganggu dan Kasus ISPA Tembus 11.539

Kabut Asap Selimuti Jambi, Penerbangan Terganggu dan Kasus ISPA Tembus 11.539
Kabut Asap Selimuti Jambi, Penerbangan Terganggu dan Kasus ISPA Tembus 11.539

FaktaHari – 10 Oktober 2026 | Jambi, provinsi di pesisir timur Pulau Sumatera, kembali dilanda bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas. Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 9 Oktober 2026, provinsi Jambi termasuk dalam enam prioritas penanganan karhutla bersama Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Hingga pertengahan Oktober, sebanyak 7.555 titik panas terdeteksi di enam provinsi tersebut, dengan luas lahan terbakar mencapai 706,19 hektare dalam 24 jam terakhir.

Kualitas udara di Jambi terus memburuk. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat konsentrasi partikel halus PM2.5 di beberapa wilayah Jambi berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya, dengan konsentrasi melebihi 250,4 mikrogram per meter kubik. Kabut asap tebal bahkan mereduksi jarak pandang di Jambi menjadi hanya sekitar satu kilometer, jauh di bawah standar aman penerbangan. Kondisi ini memaksa pihak pengelola Bandara Sultan Thaha Jambi untuk melakukan penyesuaian jadwal penerbangan secara drastis.

Executive General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi, Ardon Mabrun, menjelaskan bahwa jadwal penerbangan diundur ke sore dan malam hari untuk mengantisipasi jarak pandang yang membaik pada waktu tersebut. “Penerbangan saat ini memang sempat terkendala waktu, tetapi masih dibilang normal, karena jadwal digeser ke sore dan malam. Penerbangan pertama tadi pagi normal sesuai jadwal, sedangkan siang memang tidak ada jadwal penerbangan,” ujarnya. Maskapai seperti Citilink, Batik Air, Super Air Jet, dan Garuda Indonesia telah menyesuaikan jadwal kedatangan dan keberangkatan mulai pukul 17.00 WIB hingga malam hari. Penumpang diimbau untuk terus memantau informasi terbaru dari maskapai masing-masing.

Dampak kesehatan akibat kabut asap di Jambi juga sangat mengkhawatirkan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jambi, Doni Sumatriadi, mengungkapkan bahwa data surveilans Dinas Kesehatan Kota Jambi mencatat total kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 11.539 kasus sejak 24 Agustus hingga 9 Oktober 2026. Lonjakan harian sempat mencapai 501 kasus pada 26 Agustus, dan terus berfluktuasi di atas 200 kasus per hari hingga awal Oktober. Selain ISPA, kasus diare tercatat sebanyak 1.362 kasus dan konjungtivitis sebanyak 517 kasus dalam periode yang sama. Meski demikian, Doni menegaskan bahwa data tersebut tidak secara otomatis membuktikan seluruh kasus disebabkan langsung oleh karhutla, namun menjadi perhatian serius di tengah kualitas udara yang memburuk.

Pemerintah terus mengerahkan upaya penanggulangan melalui operasi pemadaman darat dan udara. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melaporkan sebanyak 61 pesawat dikerahkan, terdiri dari 44 pesawat pengebom air dan 17 pesawat untuk patroli serta modifikasi cuaca. Sebanyak 55 pesawat beroperasi di enam provinsi prioritas, termasuk Jambi. Operasi water bombing dan patroli udara terus digencarkan untuk memadamkan titik api dan mencegah meluasnya kebakaran. BNPB juga mengingatkan bahwa data hotspot harus diverifikasi di lapangan karena tidak secara langsung mencerminkan jumlah api aktif atau luas lahan yang masih terbakar.

Kabut asap yang menyelimuti Jambi dan provinsi tetangga tidak hanya mengganggu transportasi udara dan kesehatan masyarakat, tetapi juga mengancam aktivitas ekonomi dan sosial. Masyarakat diimbau untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas di luar rumah, dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala gangguan pernapasan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau perkembangan situasi dan mengoptimalkan upaya penanggulangan karhutla.

Bencana kabut asap tahun ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan lahan berkelanjutan dan penegakan hukum terhadap praktik pembakaran hutan. Dengan luas lahan terbakar yang terus bertambah dan kualitas udara yang belum menunjukkan perbaikan signifikan, langkah mitigasi jangka panjang menjadi kebutuhan mendesak agar musibah serupa tidak terulang setiap tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *