FaktaHari – 10 Oktober 2026 | Jambi, 9 Oktober 2026 — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Provinsi Jambi semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data pemantauan kualitas udara, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di sejumlah wilayah menunjukkan angka yang sangat tinggi, bahkan masuk kategori berbahaya. ISPU Jambi menjadi sorotan nasional setelah beberapa daerah mencatatkan angka ekstrem yang mengancam kesehatan masyarakat.
Data dari laman resmi ISPU Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada Kamis (8/10) pukul 07.12 WIB menunjukkan bahwa ISPU Jambi di Kabupaten Tebo mencapai 815 dengan parameter PM10. Angka ini menempatkan Tebo di peringkat kesembilan nasional untuk kualitas udara terburuk. Sementara itu, di Kabupaten Muaro Jambi, ISPU tercatat menyentuh angka 401, berdasarkan pemantauan alat Air Quality Monitoring System (AQMS) Dinas Lingkungan Hidup setempat. Bahkan, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kota Jambi pada hari yang sama mencapai 452, dengan puncak 593 menurut IQAir, yang juga masuk kategori berbahaya.
Dampak Kesehatan: Ribuan Warga Terkena ISPA
Kondisi ini memicu lonjakan kasus gangguan pernapasan. Dinas Kesehatan Kabupaten Muaro Jambi mencatat sebanyak 4.065 warga terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan kabut asap yang telah mengepung wilayah tersebut selama lebih dari sebulan. Selain ISPA, tercatat pula 399 kasus diare dan 99 kasus konjungtivitis atau iritasi mata.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Muaro Jambi, Ariany Widiastuty, mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. “Sebaiknya seluruh masyarakat tentu mengurangi aktivitas di luar rumah,” ujarnya. Salah satu warga, Jumiatun, mengaku mengalami sesak napas, mata merah, pusing, dan batuk saat kabut asap semakin pekat. “Sesak, mata merah, kepala kadang pusing karena pandangan tidak terlalu jauh, kadang-kadang bisa batuk juga,” keluhnya.
Langit Memerah dan Imbauan Keselamatan
Kabut asap pekat bahkan menyebabkan fenomena langit memerah di Desa Sungai Aur, Kecamatan Kumpeh Ilir, Muaro Jambi, akibat partikel aerosol asap yang menghamburkan cahaya matahari. Fenomena serupa juga terlihat di Kecamatan Sekernan, Muaro Jambi, di mana kabut asap menutup pemukiman warga sepanjang hari. Sementara itu, Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jambi mengimbau pengendara untuk selalu menyalakan lampu kendaraan dan mengurangi kecepatan di jalan raya. Dirlantas Polda Jambi Kombes Pol. Adi Benny Cahyono menyatakan, “Waspada kabut asap di Jambi dan tetap selalu berhati-hati, saat berada di jalan raya, masyarakat kami harapkan dapat mengurangi kecepatan dan mematuhi aturan lalu lintas.” Personel Ditlantas juga turun ke jalan membagikan masker gratis kepada pengguna jalan.
Kontroversi Sumber Asap
Di tengah krisis ini, muncul pernyataan kontroversial dari Anggota DPRD Provinsi Riau, Ginda Burnama. Ia menyebut bahwa asap yang menyelimuti Riau sebenarnya berasal dari daerah lain, termasuk Jambi, Palembang, dan Lampung. “Memang keadaan hari ini bukan di posisi kita, Provinsi Riau, yang menghasilkan asap yang begitu luar biasa. Yang terjadi adalah di daerah Jambi, Palembang dan Lampung. Ini artinya dari kiriman dari sana,” ujarnya, Jumat (9/10). Ia pun mendorong pemerintah pusat untuk membantu daerah-daerah tersebut dalam penanganan karhutla.
Meskipun demikian, data menunjukkan bahwa ISPU Jambi di berbagai titik masih sangat tinggi. Kabupaten Tebo dengan ISPU 815 dan Muaro Jambi dengan ISPU 401 menjadi bukti bahwa kualitas udara di provinsi ini berada dalam kondisi darurat. ISPU Jambi yang terus memburuk memerlukan penanganan serius dari pemerintah daerah dan pusat.
Kesimpulannya, bencana kabut asap akibat karhutla di Jambi telah mencapai level kritis. Ribuan warga menderita gangguan kesehatan, aktivitas masyarakat terganggu, dan kualitas udara terus memburuk. Pemerintah daerah bersama TNI/Polri dan masyarakat harus bersatu padu dalam upaya pemadaman dan mitigasi. Selain itu, kesadaran untuk tidak membakar lahan serta peningkatan sistem deteksi dini menjadi kunci agar krisis serupa tidak terulang. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, menggunakan masker, dan membatasi aktivitas di luar rumah hingga kondisi udara membaik.











