Berita  

World Space Week 2026: Revolusi Roket dan Jejak Pengamatan Antariksa di Watukosek

World Space Week 2026: Revolusi Roket dan Jejak Pengamatan Antariksa di Watukosek
World Space Week 2026: Revolusi Roket dan Jejak Pengamatan Antariksa di Watukosek

FaktaHari – 08 Oktober 2026 | Perayaan World Space Week 2026 yang berlangsung pada 4–10 Oktober tahun ini mengusung tema “Rocket Revolution” atau Revolusi Roket, sebuah tema yang menyoroti perubahan besar dalam teknologi peluncuran antariksa. World Space Week 2026 menjadi momen global untuk merayakan kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa terhadap kehidupan manusia, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk mendalami bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

World Space Week 2026 ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi Majelis Umum Nomor 54/68 pada 6 Desember 1999. Tanggal 4–10 Oktober dipilih karena berkaitan dengan dua peristiwa penting dalam sejarah keantariksaan: peluncuran Sputnik 1 oleh Uni Soviet pada 4 Oktober 1957, dan mulai berlakunya Outer Space Treaty pada 10 Oktober 1967. Perayaan ini tidak terpusat di satu negara, melainkan berlangsung di berbagai lokasi di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, salah satu kegiatan yang menonjol adalah Pekan Astronomi Jakarta yang digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pada 6–10 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan pameran astronomi, pertunjukan planetarium mini, peneropongan Matahari, eksperimen roket air, serta berbagai aktivitas edukatif lainnya yang memperkenalkan masyarakat pada ilmu antariksa.

Selain itu, World Space Week 2026 juga menjadi momentum untuk mengenang jejak pengamatan antariksa di Watukosek, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kawasan tersebut pernah menjadi lokasi fasilitas pengamatan milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), yang digunakan untuk mengamati aktivitas matahari dan atmosfer. Meskipun fasilitas tersebut kini sudah tidak beroperasi lagi, data pengamatan dari Watukosek masih dimanfaatkan dalam berbagai karya ilmiah, termasuk penelitian tentang sunspot atau bintik matahari.

Penelitian yang menggunakan data dari Stasiun Pengamatan Matahari (SPM) Watukosek mencatat bahwa pada Januari–Maret 2015, terdapat 130 grup sunspot pada Januari, 83 grup pada Februari, dan 85 grup pada Maret. Aktivitas matahari tertinggi dalam periode tersebut terjadi pada Januari 2015. Data ini juga digunakan untuk meneliti hubungan antara sunspot dan flare, yaitu semburan energi di Matahari, yang menunjukkan bahwa flare tidak selalu muncul pada grup sunspot berukuran besar.

Sementara itu, Google ikut merayakan World Space Week 2026 dengan menampilkan Google Doodle bertema Nebula Carina pada 8 Oktober 2026. Sebelumnya, pada 6 Oktober, Google menampilkan Doodle “Rosebud Nebula”. Nebula Carina merupakan salah satu nebula terbesar dan paling terang di langit malam, yang berada di galaksi Bima Sakti dan menjadi tempat pembentukan bintang.

Di tingkat global, World Space Week 2026 dimeriahkan oleh berbagai kegiatan besar. Kennedy Space Center Visitor Complex di Florida, Amerika Serikat, menggelar World Space Week Expo 2026 pada 9 Oktober dengan tema “Rocket Revolution”, melibatkan NASA serta mitra industri seperti United Launch Alliance, Lockheed Martin, Blue Origin, dan Airbus. European Space Agency (ESA) bekerja sama dengan The Pokémon Company International menghadirkan pameran bertema antariksa dan Pokémon di sejumlah lokasi di Eropa, termasuk Cité de l’espace di Prancis, Ciudad de las Artes y las Ciencias di Spanyol, dan Science Museum di Inggris. Arab Saudi juga menyelenggarakan kegiatan Explore Space di Riyadh pada 4–10 Oktober, berupa pengalaman interaktif bertema antariksa gratis untuk berbagai usia.

World Space Week 2026 bukan sekadar perayaan, melainkan juga ajang untuk memperkuat kerja sama internasional dalam eksplorasi ruang angkasa. Tema Revolusi Roket menekankan semakin banyaknya pihak yang terlibat dalam teknologi peluncuran, mulai dari perusahaan komersial, pengembang roket reusable, tim universitas, hingga negara-negara baru. Akses menuju ruang angkasa semakin terbuka, dan hal ini membuka peluang besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan.

Dengan beragam kegiatan yang tersebar di seluruh dunia, World Space Week 2026 berhasil menginspirasi jutaan orang untuk melihat ke langit dan bermimpi tentang masa depan eksplorasi antariksa. Jejak penelitian di Watukosek, visual Nebula Carina dari Google, hingga pameran interaktif di berbagai negara, semuanya menjadi bagian dari narasi besar bahwa antariksa adalah milik bersama umat manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *