Berita  

BMKG Hari Ini: Cuaca Ekstrem hingga Gelombang Tinggi Ancam Sejumlah Wilayah Indonesia

BMKG Hari Ini: Cuaca Ekstrem hingga Gelombang Tinggi Ancam Sejumlah Wilayah Indonesia
BMKG Hari Ini: Cuaca Ekstrem hingga Gelombang Tinggi Ancam Sejumlah Wilayah Indonesia

FaktaHari – 05 Oktober 2026 | BMKG hari ini mengeluarkan serangkaian peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Mulai dari suhu udara yang mencapai 37 derajat Celsius di Surabaya, gelombang tinggi hingga 4 meter di sembilan wilayah perairan, hingga ancaman banjir rob di pesisir Lampung. Informasi ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pemerintah untuk melakukan langkah mitigasi.

Suhu Panas Ekstrem di Surabaya

Prakirawan BMKG Juanda, Oky Sukma Hakim, menjelaskan bahwa pada bulan Oktober ini, suhu udara di Surabaya masih berpotensi meningkat. “Untuk di periode bulan Oktober ini yang masih musim kemarau, suhu udara maksimum diprediksi dapat meningkat hingga sekitar 37 derajat Celsius,” kata Oky saat dikonfirmasi, Senin (5/10/2026). Ia menegaskan bahwa isu suhu di atas 40 derajat Celsius yang beredar bukan berasal dari data BMKG, melainkan kemungkinan suhu yang dirasakan kulit manusia (feels like temperature). Oky mengimbau masyarakat untuk menghindari paparan langsung sinar matahari pada siang hari, menggunakan pakaian tertutup atau tabir surya, serta mengonsumsi air sesuai kebutuhan tubuh agar terhindar dari dehidrasi.

Prediksi Awal Musim Hujan di Jawa Timur

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, mengungkapkan bahwa fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat diprediksi akan terus berlangsung hingga awal tahun 2027. Kondisi ini berdampak pada pergeseran jadwal datangnya hujan di 74 Zona Musim (ZOM) Jawa Timur. Sebanyak 68 ZOM diprediksi baru memasuki musim hujan pada Desember 2026, sementara 5 ZOM mulai November 2026, dan 1 ZOM pada Januari 2027. Pergeseran ini membuat awal musim hujan di 70 ZOM atau sebesar 96,6% luas daratan mundur dari rata-rata normalnya. BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk menyiapkan langkah mitigasi, seperti optimalisasi pemanfaatan air tanah, inspeksi infrastruktur bangunan air, dan penyesuaian kalender tanam untuk sektor pertanian.

Peringatan Gelombang Tinggi hingga 4 Meter

BMKG hari ini juga mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia pada 5–8 Oktober 2026. Gelombang setinggi 2,5–4 meter berpotensi melanda sembilan wilayah di Samudra Hindia, mulai dari barat Bengkulu dan Lampung hingga selatan Banten, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Sementara itu, gelombang setinggi 1,25–2,5 meter diperkirakan terjadi di Selat Malaka bagian utara, Samudra Hindia barat Aceh, Kepulauan Nias, Kepulauan Mentawai, dan Samudra Hindia selatan NTT. BMKG meminta nelayan dan pelayaran untuk meningkatkan kewaspadaan serta memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi.

Ancaman Banjir Rob di Pesisir Lampung

Prakirawan BMKG Maritim Lampung, Eka Suci, menyampaikan bahwa masyarakat di sejumlah wilayah pesisir Provinsi Lampung diminta waspada terhadap potensi banjir pesisir atau rob yang diprakirakan terjadi pada 12–15 Oktober 2026. Potensi rob ini dipengaruhi fenomena fase Bulan Baru pada 10 Oktober 2026 yang meningkatkan ketinggian muka air laut maksimum. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi pesisir Bandar Lampung, Tanggamus, Lampung Selatan, Pesawaran, pesisir timur Lampung, hingga Pesisir Barat. Eka mengimbau masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di kawasan pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terkait aktivitas bongkar muat di pelabuhan, permukiman warga, hingga kegiatan tambak garam dan perikanan darat.

Gempa M4,4 di Lumajang Tidak Terkait Aktivitas Semeru

BMKG hari ini juga mengonfirmasi bahwa gempa bumi berkekuatan M4,4 yang mengguncang Lumajang pada Senin (5/10/2026) pagi tidak berkaitan dengan aktivitas Gunung Semeru. Pengamat Meteorologi dan Geofisika Madya Stasiun Geofisika BMKG Pasuruan, Rozikan, menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa bumi tektonik menengah yang berkaitan dengan aktivitas subduksi, sementara aktivitas Semeru merupakan aktivitas vulkanik. Gempa terjadi pada pukul 09.16 WIB dengan kedalaman 76 kilometer dan episenter di laut sekitar 133 kilometer barat daya Lumajang. Guncangan terasa hingga Blitar, Malang, dan Jember dengan skala intensitas III MMI. BMKG menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami dan belum ada gempa susulan yang terdeteksi.

Dengan berbagai peringatan dini yang dikeluarkan BMKG hari ini, masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari BMKG dan mengambil langkah antisipasi yang diperlukan. Keselamatan dan kewaspadaan menjadi prioritas utama menghadapi potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *