Berita  

Kementerian PPPA Dorong Asesmen MPLS untuk Cegah Stigma pada Siswa Baru

Kementerian PPPA Dorong Asesmen MPLS untuk Cegah Stigma pada Siswa Baru
Kementerian PPPA Dorong Asesmen MPLS untuk Cegah Stigma pada Siswa Baru

FaktaHari – 17 Juli 2026 | Jakarta – Kementerian PPPA Dukung Asesmen MPLS Cegah Stigma terhadap Siswa Baru LPP RRI melalui pernyataan resmi yang disampaikan Asisten Deputi Penyediaan Layanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (Layanan AMPK) KemenPPPA, Ciput Purwianti, pada Kamis, 16 Juli 2026. Dalam keterangannya, KemenPPPA menekankan pentingnya asesmen siswa baru saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai langkah strategis untuk mencegah stigma dan memastikan pembelajaran sesuai kebutuhan individu.

Asesmen ini tidak hanya menyoroti kemampuan akademik, tetapi juga menggali kondisi psikologis dan latar belakang keluarga siswa. “Di sekolah jangan sampai muncul stigma terhadap anak yang memiliki kemampuan atau prestasi belajar berbeda. Karena setiap anak membutuhkan pendekatan pembelajaran yang sesuai kondisinya,” ujar Ciput. Dengan demikian, guru dapat memiliki pegangan yang jelas untuk memberikan pendampingan yang tepat tanpa menerapkan metode seragam yang berpotensi merugikan siswa yang kurang adaptif.

Kementerian PPPA Dukung Asesmen MPLS Cegah Stigma terhadap Siswa Baru LPP RRI juga menekankan perlunya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Mengingat sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah bersama teman sebaya dari latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi yang beragam, risiko konflik seperti perundungan dan kekerasan antarteman dapat muncul jika tidak diantisipasi sejak awal. “Keberagaman di lingkungan sekolah berpotensi memicu konflik jika tidak diantisipasi sejak awal. Risikonya dapat berupa perundungan maupun kekerasan antarteman sebaya,” tambah Ciput.

Dukungan Kementerian PPPA terhadap asesmen MPLS ini sejalan dengan upaya mewujudkan pendidikan inklusif yang menghargai perbedaan. Hasil asesmen menjadi acuan bagi guru untuk merancang strategi pembelajaran yang adaptif, baik dari segi metode maupun materi. Selain itu, asesmen juga membantu mengidentifikasi siswa yang memerlukan perhatian khusus, seperti anak berkebutuhan khusus atau korban kekerasan, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih awal.

<pDalam praktiknya, Kementerian PPPA Dukung Asesmen MPLS Cegah Stigma terhadap Siswa Baru LPP RRI dengan mendorong sekolah untuk melibatkan orang tua dalam proses asesmen. Kemitraan antara sekolah dan keluarga dianggap krusial agar nilai-nilai positif yang diterima anak di sekolah dapat selaras dengan pola pengasuhan di rumah. “Lingkungan sekolah dan keluarga harus saling mendukung dalam membentuk tumbuh kembang anak,” tegas Ciput.

Kebijakan ini juga mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk praktisi pendidikan yang menilai bahwa asesmen berbasis kondisi psikologis dan latar belakang keluarga dapat mengurangi kesenjangan perlakuan di sekolah. Dengan pendekatan yang humanis, stigma terhadap siswa dengan prestasi rendah atau perbedaan perilaku dapat diminimalisir. Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang tumbuh kembang yang aman secara emosional.

Kementerian PPPA Dukung Asesmen MPLS Cegah Stigma terhadap Siswa Baru LPP RRI juga mengingatkan bahwa asesmen harus dilakukan dengan metode yang tepat, bukan sekadar formalitas. Guru perlu dilatih untuk melakukan observasi dan wawancara secara sensitif tanpa menimbulkan tekanan pada siswa. Hasil asesmen harus dirahasiakan dan hanya digunakan untuk kepentingan pembelajaran, bukan untuk melabeli siswa.

Kesimpulannya, dukungan Kementerian PPPA terhadap asesmen MPLS merupakan langkah maju dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Dengan mencegah stigma sejak awal, siswa baru dapat mengikuti proses belajar dengan lebih percaya diri dan nyaman. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan orang tua menjadi kunci keberhasilan implementasi kebijakan ini. Semoga langkah ini dapat diadopsi secara luas di seluruh Indonesia, sehingga setiap anak mendapatkan haknya untuk belajar tanpa diskriminasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *