Dolar Kembali Menggila, Rupiah Terpuruk ke Rp18.176! Akankah Bertahan?

Dolar Kembali Menggila, Rupiah Terpuruk ke Rp18.176! Akankah Bertahan?
Dolar Kembali Menggila, Rupiah Terpuruk ke Rp18.176! Akankah Bertahan?

FaktaHari – 28 Oktober 2026 | Nilai tukar dollar ke rupiah kembali menorehkan catatan kelam pada pembukaan perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Rupiah dibuka melemah 20 poin atau 0,11% ke level Rp18.176 per dolar Amerika Serikat (USD), setelah pada penutupan Selasa (27/10/2026) terdepresiasi 21 poin atau 0,12% ke Rp18.156 per USD. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah yang masih tertekan oleh berbagai sentimen eksternal dan domestik. Pergerakan dollar ke rupiah menjadi sorotan pelaku pasar seiring dengan menguatnya indeks dolar AS ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir.

Berdasarkan data pasar spot, dolar AS menguat 0,09% ke level 102,414. Indeks dolar sempat menyentuh 102,40 pada Selasa, posisi tertinggi sejak 14 Oktober 2026. Penguatan greenback didorong oleh ekspektasi pasar menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga stabil di angka 4,9967%, memberikan daya tarik bagi investor global untuk beralih ke aset safe haven. Dinamika dollar ke rupiah ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh kebijakan moneter AS terhadap pergerakan mata uang emerging market, termasuk Indonesia.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif namun rentan melemah pada perdagangan hari ini, dengan rentang Rp18.150 hingga Rp18.200 per dolar AS. Untuk sepekan ke depan, ia memperkirakan kurs rupiah berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.250 per USD. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah masih dibayangi oleh tingginya harga minyak dunia yang memaksa pemerintah berupaya mengamankan pasokan energi dalam negeri. Pemerintah memastikan stok bahan bakar bersubsidi cukup untuk 16-18 hari, sementara persediaan jenis lain di atas ketentuan minimum. Namun, Ibrahim mengingatkan bahwa kecukupan stok BBM tidak otomatis membebaskan APBN dari tekanan akibat kenaikan harga minyak global.

Selain faktor energi, kekhawatiran inflasi di tengah tingginya harga pangan juga menjadi perhatian. Kenaikan harga pangan dapat mendorong inflasi dari sisi penawaran (cost-push inflation), terutama jika disebabkan oleh gangguan produksi, perubahan cuaca, distribusi yang tidak lancar, atau meningkatnya biaya transportasi dan pupuk. Kondisi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat dan stabilitas harga secara keseluruhan. Oleh karena itu, pergerakan dollar ke rupiah tidak bisa dipandang sebelah mata karena berdampak langsung pada perekonomian riil.

Dari sisi eksternal, pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Upaya diplomatik antara Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Iran di Teheran pada Senin (26/10/2026) bertujuan meredakan ketegangan regional. Qatar juga menjalin komunikasi dengan Teheran. Pembahasan mencakup serangan Houthi terhadap Arab Saudi, potensi negosiasi AS-Iran, gangguan pelayaran di Selat Hormuz, serta blokade Washington terhadap pelabuhan Iran. Meskipun upaya ini sedikit meredakan kekhawatiran eskalasi militer, investor tetap waspada terhadap keberlanjutan de-eskalasi. Presiden Donald Trump masih membuka opsi tindakan militer lebih lanjut, sementara Iran menuntut penghentian blokade dan pencabutan sanksi ekspor minyak sebagai syarat negosiasi. Risiko gangguan pasokan energi global masih tinggi, yang pada akhirnya turut memengaruhi pergerakan dollar ke rupiah.

Faktor domestik lain yang menjadi sorotan adalah rencana pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dan rilis data PCE AS, serta pemilihan paruh waktu AS. Ketua The Fed, Kevin Warsh, dijadwalkan memberikan konferensi pers yang mungkin memberi sinyal arah kebijakan moneter selanjutnya. Meski tidak ada panduan resmi, pasar akan mencermati setiap pernyataan untuk mengantisipasi perubahan kebijakan. Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan bahwa pada 20 Oktober 2026, rupiah tercatat Rp17.985 per dolar AS, melemah 0,61% dibanding akhir September 2026. Tekanan berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham.

Pelemahan rupiah memiliki dampak berantai terhadap perekonomian Indonesia. Harga barang impor akan meningkat, biaya produksi perusahaan naik, dan daya beli masyarakat tergerus. Sektor perdagangan internasional juga terpengaruh karena harga ekspor menjadi lebih kompetitif, tetapi di sisi lain biaya bahan baku impor melonjak. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas nilai tukar melalui koordinasi kebijakan moneter dan fiskal, serta memastikan pasokan pangan dan energi dalam negeri tetap aman. Dengan demikian, fluktuasi dollar ke rupiah menjadi indikator penting yang harus terus dipantau oleh semua pihak.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah hari ini merupakan cerminan dari tekanan global yang belum mereda. Meskipun pemerintah telah berupaya mengamankan pasokan energi dan pangan, risiko eksternal seperti kebijakan The Fed dan konflik Timur Tengah masih membayangi. Pelaku pasar diharapkan tetap waspada dan mengantisipasi volatilitas lanjutan. Stabilitas nilai tukar akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia dalam mengelola tekanan eksternal dan menjaga fundamental ekonomi domestik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *