FaktaHari – 17 Juli 2026 | WONOSOBO – Operasi pencarian selama dua pekan terhadap dua remaja asal Desa Krinjing, Kecamatan Watumalang, Wonosobo, akhirnya berakhir dengan duka. Alifin Nur Rohmat (18) dan Yufaidin (15) ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di dasar jurang Curug Tiga dengan kedalaman mencapai 200 meter lebih. Temuan ini mengonfirmasi dugaan awal bahwa dua remaja hilang di jalur Bismo diperkirakan meninggal karena terjatuh dari tebing 200 m lebih.
Kedua korban dilaporkan meninggalkan rumah pada Selasa, 30 Juni 2026 sekitar pukul 11.30 WIB tanpa pamit kepada orang tua. Mereka hanya membawa bekal seadanya berupa roti, sosis, dan wafer. Warga terakhir melihat mereka di dekat jembatan menuju kawasan Gunung Bismo. Keluarga yang curiga melapor ke aparat desa pada 1 Juli, dan tim SAR gabungan mulai melakukan pencarian sejak 2 Juli.
Operasi SAR berlangsung selama tujuh hari dan diperpanjang tiga hari, namun tidak membuahkan hasil. Medan yang berat, hutan lebat, dan tebing curam menjadi kendala utama. Pencarian resmi ditutup pada Sabtu, 11 Juli. Namun keesokan harinya, relawan dari Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (Wanadri) bersama warga setempat menemukan kedua jasad di dasar jurang Curug Tiga pada pukul 13.00 WIB. “Dua remaja hilang di jalur Bismo diperkirakan meninggal karena terjatuh dari tebing 200 m lebih,” ujar Kepala BPBD Wonosobo Sumekto Hendro saat dikonfirmasi.
Berdasarkan analisis awal, diduga salah satu korban kehilangan pijakan di medan licin dan jatuh ke jurang. Temannya yang berusaha menolong justru ikut terseret. Kondisi korban sudah membusuk, mengindikasikan mereka telah meninggal beberapa hari sebelumnya. Evakuasi berlangsung sulit karena kedalaman jurang mencapai 284 meter menurut beberapa sumber. Tim harus membuat jangkar tali sepanjang 100 meter dua kali untuk mencapai lokasi. “Dua remaja hilang di jalur Bismo diperkirakan meninggal karena terjatuh dari tebing 200 m lebih. Itu dugaan kuat kami,” tambah Koordinator Tim Reaksi Cepat BPBD Wonosobo, Sabarno.
Proses evakuasi melibatkan puluhan relawan dan petugas gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, serta komunitas pecinta alam. Jasad akhirnya tiba di basecamp pada malam hari dan langsung dibawa ke rumah duka. Camat Watumalang Arif Hardyanto menyampaikan duka mendalam dan mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati saat beraktivitas di gunung, terutama tanpa izin dan perlengkapan yang memadai.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi para pendaki pemula. Gunung Bismo yang memiliki jalur terjal dan licin menuntut kesiapan fisik dan mental. Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti masih dalam penyelidikan, namun bukti di lapangan memperkuat dugaan bahwa dua remaja hilang di jalur Bismo diperkirakan meninggal karena terjatuh dari tebing 200 m lebih. Semoga peristiwa ini tidak terulang lagi.
Kesimpulan: Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat. Pentingnya pendakian yang terencana, izin orang tua, serta perlengkapan keselamatan ditekankan kembali. Tim SAR dan relawan patut diapresiasi atas kerja kerasnya dalam kondisi medan ekstrem.











