FaktaHari – 22 Oktober 2026 | Alexandra Eala menjadi sorotan utama di dunia tenis putri. Mantan pelatih legendaris Coco Gauff, Brad Gilbert, menyebut petenis Filipina berusia 21 tahun itu sebagai pemain dengan tekanan terbesar di WTA Tour saat ini. Pernyataan tersebut muncul menjelang laga krusial Alexandra Eala melawan unggulan ke-13 asal Rusia, Diana Shnaider, di babak 16 besar WTA 500 Ningbo Open, Kamis (22/10/2026).
Gilbert, yang juga pernah melatih Andre Agassi dan Andy Murray, mengungkapkan kekagumannya terhadap perkembangan Eala. “Mungkin pemain yang paling ingin saya lihat perkembangannya di 2027—dan dia mungkin memiliki tekanan paling besar di antara semua pemain—adalah Eala,” ujarnya dalam podcast The Big T Tennis Channel. Senada dengan Gilbert, mantan petenis peringkat 9 dunia Andrea Petkovic menambahkan bahwa musim gemilang Eala tahun ini akan menjadi tolok ukur menarik untuk musim depan.
Tekanan itu bukan tanpa alasan. Alexandra Eala memulai 2026 di peringkat 53 dunia dan kini menempati posisi ke-20. Ia mencapai peringkat tertinggi sepanjang karier, No. 18, pada Agustus lalu setelah meraih gelar WTA 500 pertamanya di Washington DC. Prestasi terbaiknya di Grand Slam terjadi di Wimbledon 2026, ketika ia menembus putaran keempat setelah mengalahkan Iga Swiatek. Namun, konsistensi menjadi tantangan tersendiri.
Dalam dua turnamen terakhir sebelum Ningbo, Eala tumbang di laga pembuka melawan pemain berperingkat lebih rendah. Ia kalah dari Tatiana Prozorova (No. 180) di Singapore Open dan Shi Han (No. 217) di Wuhan Open. Kekalahan dari Shi Han bahkan memicu kritik tajam dari publik Filipina terkait fokusnya antara tenis dan kegiatan di luar lapangan. Meski demikian, Persatuan Tenis Filipina (Philta) dan sang paman, Noli Eala, tetap memberikan dukungan penuh.
Di Ningbo Open, Alexandra Eala akhirnya memutus tren negatif dengan kemenangan meyakinkan 6-3, 6-1 atas petenis Prancis Diane Parry (No. 34) pada Senin lalu. Kemenangan ini menjadi modal berharga sebelum menghadapi Shnaider, yang belum pernah ia jumpai sepanjang karier junior maupun profesional. Shnaider melaju ke babak 16 besar setelah menundukkan Yulia Putintseva (No. 66) dengan skor 7-5, 7-6(4).
Laga melawan Shnaider akan menjadi ujian sesungguhnya bagi mental dan teknik Eala. Jika mampu melewati rintangan ini, ia berpotensi menghadapi Iva Jovic (No. 12) atau Jasmine Paolini (No. 35) di perempat final. Rekor Eala melawan Jovic kurang menguntungkan (0-3), tetapi ia memiliki catatan imbang 1-1 melawan Paolini. Dengan tekanan yang semakin membesar, pertandingan ini akan menjadi pembuktian apakah Alexandra Eala mampu mengubah beban menjadi bahan bakar menuju puncak performa.
Perjalanan Alexandra Eala di Ningbo Open tidak hanya tentang meraih kemenangan, tetapi juga tentang membuktikan bahwa ia layak diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan baru tenis putri dunia. Dukungan dari legenda tenis seperti Brad Gilbert menjadi cambuk sekaligus pengingat bahwa ekspektasi tinggi selalu menyertai langkahnya. Kini, bola ada di tangan Eala untuk menjawab semua keraguan.











