Changpeng Zhao Kecam Denda Bank of America: Eksekutif Bank Kebal Hukum, Sedangkan Eksekutif Kripto Dipenjara?

Changpeng Zhao Kecam Denda Bank of America: Eksekutif Bank Kebal Hukum, Sedangkan Eksekutif Kripto Dipenjara?
Changpeng Zhao Kecam Denda Bank of America: Eksekutif Bank Kebal Hukum, Sedangkan Eksekutif Kripto Dipenjara?

FaktaHari – 16 Oktober 2026 | Pendiri sekaligus mantan CEO Binance, Changpeng Zhao (CZ), kembali menjadi sorotan setelah melontarkan kritik pedas terhadap sanksi finansial yang dijatuhkan kepada Bank of America (BoA). Dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, Changpeng Zhao menyoroti ketimpangan perlakuan hukum antara eksekutif bank tradisional dan pelaku industri aset kripto. Pernyataan ini muncul setelah regulator Amerika Serikat menjatuhkan denda sebesar USD 1,21 miliar kepada Bank of America atas kegagalan sistem anti pencucian uang (AML) dan pelanggaran sanksi.

Departemen Keuangan AS, melalui Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) dan Office of the Comptroller of the Currency (OCC), menemukan bahwa Bank of America gagal mendeteksi, meninjau, dan melaporkan lebih dari USD 5 miliar transaksi mencurigakan secara tepat waktu. Pelanggaran ini dinilai sangat serius karena melibatkan jaringan pencucian uang asal China dan aktivitas ilegal di perbatasan AS. Meskipun denda yang dijatuhkan sangat besar, Changpeng Zhao mencatat bahwa tidak ada satu pun eksekutif Bank of America yang dituntut secara pidana, dijatuhi hukuman penjara, atau bahkan dikenakan tahanan rumah.

“Tidak ada yang masuk penjara. Tidak ada tahanan rumah. Tidak ada perjanjian penundaan penuntutan. Bahkan tidak ada yang dituntut. Air di bawah jembatan. Maju terus!” tulis Changpeng Zhao dalam cuitannya. Pernyataan ini menjadi kontras dengan pengalaman pribadi CZ sendiri, yang pada November 2023 mengaku bersalah atas pelanggaran kepatuhan di Binance dan harus menjalani hukuman empat bulan penjara federal. Ia kemudian mendapatkan pengampunan dari Presiden AS saat itu, Donald Trump, pada Oktober 2025.

Kasus Bank of America ini kembali memicu perdebatan mengenai standar ganda dalam penegakan hukum di Amerika Serikat. Banyak pihak menilai bahwa regulator dan jaksa cenderung lebih lunak terhadap institusi keuangan besar (“too big to fail”) dan eksekutifnya, sementara perusahaan dan tokoh di industri kripto kerap mendapat perlakuan yang jauh lebih keras. Komentator kripto terkemuka, Lark Davis, juga menyoroti hal ini. Ia mengkritik kegagalan bank dalam melaporkan transaksi mencurigakan senilai miliaran dolar, namun dampaknya terhadap laba per saham BoA relatif kecil. “Dan mereka bilang kripto adalah pihak yang jahat,” sindir Davis.

Di tengah kontroversi ini, Changpeng Zhao juga sempat bereaksi terhadap langkah ekspansi Solana di China. Dalam kesempatan terpisah, CZ mengaku terkejut bahwa Solana mampu memasang iklan dan membuka kantor di Shanghai, sesuatu yang belum bisa dilakukan oleh BNB Chain miliknya. “Saya berharap apa yang baik untuk satu pemain industri juga baik untuk yang lainnya,” ujar CZ, menyiratkan harapannya agar kondisi operasional yang lebih longgar juga bisa dinikmati oleh proyek blockchain lainnya.

Kasus Bank of America dan komentar pedas dari Changpeng Zhao ini menjadi pengingat akan ketidakseimbangan yang masih terjadi dalam sistem regulasi keuangan global. Di satu sisi, bank raksasa yang melanggar aturan AML dan sanksi hanya dijatuhi denda tanpa ada satu pun eksekutif yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara pidana. Di sisi lain, pelaku industri kripto yang baru berkembang seringkali menjadi sasaran utama penegakan hukum yang keras. Ke depannya, publik dan para pelaku pasar tentu berharap agar penegakan hukum dapat berjalan lebih adil dan setara, tanpa memandang sektor atau ukuran institusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *