Rupiah Tembus Rp18.009 per Dolar AS: Ini Pemicu dan Dampaknya

Rupiah Tembus Rp18.009 per Dolar AS: Ini Pemicu dan Dampaknya
Rupiah Tembus Rp18.009 per Dolar AS: Ini Pemicu dan Dampaknya

FaktaHari – 27 Juli 2026 | Rupiah berpotensi melemah ke Rp18.000 per dolar AS, ini pemicunya [titlebase] menjadi sorotan utama pasar keuangan Indonesia pada Senin (27/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 46 poin atau 0,26% ke level Rp18.009 per dolar AS, menembus level psikologis 18.000. Pelemahan ini terjadi di tengah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan meningkatnya ketidakpastian global.

Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah bukan semata-mata karena mundurnya Perry Warjiyo, melainkan kombinasi faktor eksternal dan internal. “Rupiah berpotensi melemah ke Rp18.000 per dolar AS, ini pemicunya [titlebase] adalah konflik geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan proteksionis AS,” ujarnya. Konflik antara AS dan Iran serta serangan Houthi terhadap kapal minyak Saudi di Laut Merah mengganggu rantai pasok global dan mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

Selain itu, bank sentral AS (The Fed) masih menunjukkan sikap hawkish dengan peluang kenaikan suku bunga sebesar 78% pada September 2026. Hal ini memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kebijakan tarif impor baru AS terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, juga menambah beban.

Dari dalam negeri, pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI pada akhir pekan lalu memicu ketidakpastian meskipun Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditunjuk sebagai pejabat sementara. Ibrahim menegaskan, “Rupiah berpotensi melemah ke Rp18.000 per dolar AS, ini pemicunya [titlebase] juga dipengaruhi oleh tantangan fiskal domestik dan intervensi politik yang membatasi independensi BI.”

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga melemah ke level Rp17.995 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.973. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut tertekan, diprediksi melanjutkan koreksi dengan support di level 6.111.

Ibrahim memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam waktu dekat seiring belum redanya ketegangan geopolitik dan sikap hati-hati pasar menjelang pertemuan The Fed akhir Juli. “Rupiah berpotensi melemah ke Rp18.000 per dolar AS, ini pemicunya [titlebase] adalah kombinasi perfect storm yang sulit dihindari,” pungkasnya.

Pemerintah dan BI diharapkan memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan pasar. Namun, tanpa perbaikan fundamental ekonomi dan penyelesaian konflik global, rupiah diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *