FaktaHari – 24 Juli 2026 | Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu, secara terbuka menyatakan ambisi negaranya untuk merebut kendali penuh atas Jalur Gaza dan mendirikan permukiman di sana. Pernyataan kontroversial ini disampaikan dalam wawancara dengan lembaga penyiaran publik Israel, KAN, pada Kamis (23/7/2026). Menteri Israel: Tujuan utama kami rebut kendali Gaza, bangun permukiman di sana, ujar Eliyahu tegas, menggemakan agenda sayap kanan yang selama ini mendorong pendudukan kembali wilayah Palestina yang telah ditinggalkan sejak 2005.
Eliyahu, yang merupakan anggota Partai Otzma Yehudit pimpinan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, mengakui bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum secara resmi memasukkan isu ini ke dalam agenda pemerintah. Namun, ia menekankan bahwa hal tersebut masih dapat didiskusikan, dan di kawasan Timur Tengah, opini publik memahami bahasa kekuatan. Menteri Israel: Tujuan utama kami rebut kendali Gaza, bangun permukiman di sana menjadi pernyataan yang memicu kecaman internasional, mengingat Gaza saat ini dihuni sekitar 2 juta warga Palestina yang mayoritas merupakan pengungsi.
Pernyataan ini muncul bersamaan dengan meningkatnya ketegangan di Yerusalem Timur. Pada hari yang sama, lebih dari 2.300 pemukim Israel, dipimpin oleh Itamar Ben-Gvir, menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa saat perayaan hari raya Yahudi Tisha B’Av. Otoritas Israel memberlakukan pembatasan ketat di gerbang masjid, melarang jemaah Palestina masuk, dan menyerang beberapa warga. Tindakan ini merupakan pelanggaran terhadap status quo yang telah berlaku sejak 1967, di mana non-Muslim diizinkan mengunjungi tetapi tidak beribadah di situs suci tersebut.
Sementara itu, militer Israel secara diam-diam membangun tanggul tanah raksasa sepanjang lebih dari 23 kilometer di Jalur Gaza. Berdasarkan citra satelit yang dianalisis oleh Associated Press, tanggul ini membentang melintasi permukiman Palestina yang telah dihancurkan, memisahkan wilayah yang dikuasai Israel dari kawasan lainnya. Menteri Israel: Tujuan utama kami rebut kendali Gaza, bangun permukiman di sana tampaknya menjadi landasan operasional, di mana tanggul tersebut dibangun di sepanjang garis kuning—batas penarikan pasukan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata Oktober lalu. Namun, dengan kebuntuan negosiasi, banyak warga khawatir batas sementara ini akan menjadi perbatasan permanen.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) yang bertugas memantau gencatan senjata enggan berkomentar. Sementara itu, Dewan Perdamaian bentukan Presiden Donald Trump juga bungkam. Menteri Israel: Tujuan utama kami rebut kendali Gaza, bangun permukiman di sana bukan sekadar retorika; pembangunan infrastruktur seperti tanggul dan perluasan zona keamanan menunjukkan bahwa Israel tengah mempersiapkan penguasaan jangka panjang atas Gaza.
Langkah-langkah ini menuai kecaman luas dari komunitas internasional, termasuk PBB dan Uni Eropa, yang menegaskan bahwa permukiman Israel di wilayah pendudukan adalah ilegal menurut hukum internasional. Warga Palestina dan kelompok hak asasi manusia melihat ini sebagai upaya sistematis untuk mengusir mereka dari tanah airnya. Dengan pernyataan menteri dan aksi di lapangan, tampaknya ambisi untuk merebut kendali Gaza dan membangun permukiman semakin mendekati kenyataan, meninggalkan prospek perdamaian yang semakin suram.
Kesimpulannya, pernyataan Menteri Eliyahu mempertegas arah kebijakan Israel di bawah tekanan sayap kanan. Kombinasi antara retorika politik, pelanggaran status quo di Al-Aqsa, dan pembangunan tanggul raksasa menunjukkan bahwa Israel sedang menempuh jalur sepihak yang berpotensi memperburuk konflik. Tanpa tekanan internasional yang berarti, warga Gaza menghadapi masa depan yang tidak pasti di bawah bayang-bayang pendudukan kembali.











