FaktaHari – 02 November 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda sejumlah wilayah Indonesia pada Senin, 2 November 2026. Fenomena ini dipicu oleh pergerakan atmosfer pada masa peralihan musim serta keberadaan Bibit Siklon Tropis 91B di Teluk Benggala yang bergerak ke arah barat-barat laut menjauhi Indonesia. Meski demikian, peluang sistem tersebut berkembang menjadi siklon tropis dalam dua hingga tiga hari mendatang masih berada pada kategori sedang hingga tinggi.
Prakirawan BMKG, Sastia, menjelaskan bahwa intensitas bibit siklon diprediksi menurun saat memasuki daratan India dalam kurun 48 hingga 72 jam ke depan dengan kecepatan angin maksimum 15 knot. “Bibit Siklon Tropis 91B diprediksi berada di Teluk Benggala dengan pergerakan ke arah barat-barat laut menjauhi Indonesia,” ujarnya dalam tayangan resmi BMKG yang dipantau di Jakarta.
BMKG secara khusus menerbitkan peringatan keselamatan bagi sektor penerbangan terkait kemunculan awan hujan Cumulonimbus (Cb) di berbagai wilayah udara nasional. Awan Cb dikenal mampu berkembang secara vertikal dalam waktu cepat serta memicu hujan lebat, sambaran petir, hingga angin kencang. “Bagi dunia penerbangan, kondisi ini berisiko memicu turbulensi kuat serta perubahan arah atau kecepatan angin secara mendadak (wind shear) yang dapat membahayakan keselamatan,” jelas Sastia. Wilayah udara yang berpotensi terdampak meliputi Aceh, Sumatra Utara, Samudra Hindia Barat Kepulauan Nias dan Mentawai, Samudra Hindia Selatan Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Laut Sulawesi bagian tengah, Maluku, hingga seluruh kawasan Papua.
Di kawasan daratan, potensi hujan petir diprakirakan melanda Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, dan Manado. Hujan sedang berpotensi terjadi di Semarang, Denpasar, dan Nabire, sedangkan hujan ringan diprediksi turun di Medan, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Padang, Jambi, Bengkulu, Palembang, Serang, Jakarta, Bandung, Mataram, Palangkaraya, Tanjung Selor, Mamuju, Palu, Gorontalo, Ambon, Sorong, Jayawijaya, dan Merauke. Sementara itu, Banda Aceh, Pangkal Pinang, Surabaya, Kupang, Makassar, Kendari, Ternate, dan Manokwari diprediksi berawan tebal; Bandar Lampung dan Jayapura diliputi asap atau kabut; serta Yogyakarta mengalami kondisi udara kabur.
Peringatan cuaca ekstrem juga berlaku untuk sektor maritim. Gelombang tinggi berkisar 2,5 hingga 4 meter diprakirakan terjadi di Samudra Pasifik Utara Maluku. Masyarakat pesisir diminta mengantisipasi potensi banjir rob akibat pasang air laut di Pesisir Utara Jakarta, Pesisir Jawa Barat, Pesisir Jawa Tengah, dan Pesisir Kalimantan Selatan.
Di tingkat daerah, Komandan Kodim 0803/Madiun, Letkol Inf I Nyoman Adhi Saputra, mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian terhadap kondisi lingkungan, terutama saat cuaca ekstrem melanda. Hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang berpotensi memicu bencana seperti pohon tumbang, banjir, dan kerusakan bangunan. Imbauan serupa juga disampaikan BMKG untuk wilayah Jawa Barat, khususnya Kabupaten dan Kota Bogor serta Kabupaten Sukabumi, yang berpotensi dilanda hujan sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang pada pukul 13.00–19.00 WIB. Wilayah Cianjur, Bandung Barat, Bandung, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis juga masuk dalam daftar rawan cuaca ekstrem.
Meski demikian, ada kabar baik dari sisi iklim. Klimatolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa fenomena Atmospheric River (AR) yang sebelumnya membawa pasokan kelembapan besar dari Australia menuju selatan Indonesia mulai melemah. Akibatnya, hujan merata di Pulau Jawa berangsur reda dan peluang hujan lebat menurun. Masyarakat berpotensi menghadapi kondisi cuaca yang lebih kering dalam waktu dekat, meski hujan lokal masih mungkin terjadi. “Melemahnya AR membuat pasokan uap air di atmosfer berkurang. Dampaknya, peluang terjadinya hujan lebat di berbagai wilayah Jawa ikut menurun,” ujar Erma.
BMKG mengimbau publik untuk selalu memantau pembaruan informasi cuaca resmi dan menyesuaikan aktivitas perjalanan. “Waspadai terhadap cuaca ekstrem yang dapat terjadi pada masa peralihan musim. Pantau terus informasi cuaca dan sesuaikan aktivitas dalam melakukan perjalanan,” tutup Sastia. Dengan adanya peringatan dini ini, diharapkan masyarakat dan sektor terkait dapat mengambil langkah antisipatif guna meminimalisir dampak yang timbul akibat cuaca ekstrem.











