FaktaHari – 31 Oktober 2026 | Lanskap data sydney tengah mengalami guncangan besar. Setelah bertahun-tahun menjadi pusat pertumbuhan pusat data di Australia, pipeline pengembangan di kota ini justru mencatat penurunan tajam. Laporan terbaru dari Data Centres Australia (DCA) dan DC Byte menunjukkan kapasitas proyeksi Sydney merosot 3,6 GW dalam enam bulan terakhir, dari 11,4 GW menjadi 7,8 GW. Penurunan ini kontras dengan Melbourne yang melesat ke 10,7 GW, didorong oleh proses perizinan yang lebih cepat dan ketersediaan energi yang lebih pasti. Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar: akankah data sydney tetap menjadi primadona, ataukah kota ini sedang kehilangan momentum di tengah gelombang investasi kecerdasan buatan (AI) yang meledak?
Di balik angka-angka itu, tekanan terhadap proyek pusat data di Sydney semakin nyata. Pemerintah federal Australia tengah menyusun undang-undang untuk mengatur pembangunan fasilitas AI, termasuk pembatasan di kawasan pinggiran kota. Kalangan operator industri memperingatkan bahwa sikap ambigu pemerintah berisiko mengusir investasi. Ketidakpastian ini diperparah oleh gelombang penolakan warga (NIMBY) yang kian vokal. Belum lama ini, Goodman Group membatalkan rencana fasilitas 90 MW di salah satu pinggiran Sydney. Keputusan itu menjadi sinyal bahwa proyek data sydney tidak lagi sekadar soal ketersediaan lahan dan listrik, tetapi juga penerimaan sosial.
Meski demikian, bukan berarti Sydney kehilangan daya tarik. Inisiatif keberlanjutan justru mencuat. AquaNet, melalui perusahaan induknya coNEXA, berencana memperluas fasilitas air daur ulang di Fairfield untuk memasok kebutuhan pendinginan NextDC S4 Sydney di Horsley Park. Proyek ini diklaim sebagai yang pertama di NSW yang menggunakan air daur ulang sepenuhnya, dengan kapasitas hingga 16 juta liter per hari mulai akhir 2027. Langkah ini sejalan dengan persyaratan baru pemerintah NSW bagi pembangunan pusat data. Bagi industri, efisiensi air menjadi kunci untuk meredam kritik lingkungan, sekaligus menjaga keberlanjutan data sydney di tengah persaingan global.
Tekanan tidak hanya datang dari dalam negeri. Di Finlandia, polisi membuka investigasi kriminal terhadap anak perusahaan Google, Tuike Finland, karena membersihkan 330 hektare hutan untuk pusat data AI sebelum studi lingkungan selesai. Kasus ini menjadi pengingat bahwa ekspansi pusat data global menuai sorotan etis. Namun, pejabat Kementerian Luar Negeri Finlandia, Aki Enkenberg, menegaskan bahwa insiden tersebut tidak menyurutkan minat negaranya terhadap investasi pusat data. “Perilaku Google tentu dikutuk, tetapi itu tidak mengurangi fakta bahwa investasi semacam ini dibutuhkan,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan dilema yang juga dihadapi Australia: antara mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan memastikan praktik yang bertanggung jawab.
Di tingkat nasional, pipeline pusat data Australia telah mencapai 26,8 GW, naik 5,2 GW dari April. Namun, laporan DCA menekankan bahwa sebagian besar masih dalam tahap perencanaan awal dan berisiko batal. CEO DCA Belinda Dennett menyebut kapasitas dalam konstruksi telah berlipat ganda, menunjukkan permintaan yang kuat. Sayangnya, Sydney justru menjadi contoh bagaimana euforia bisa cepat menguap. Penurunan pipeline data sydney disinyalir akibat kendala energi yang diumumkan, ketidakpastian perizinan, dan perubahan kebijakan. Sementara itu, Victoria dengan program fasilitasi pembangunannya berhasil menarik lebih banyak proyek ke tahap komitmen.
Pasar keuangan pun ikut bereaksi. NextDC, salah satu pemain utama, memangkas proyeksi pendapatannya dan menunda rencana pengembangan fasilitas besar di Melbourne. Meski bukan di Sydney, sinyal ini mengguncang kepercayaan investor terhadap seluruh sektor. Analis menilai bahwa gelembung pusat data AI bisa meletus lebih cepat dari perkiraan jika penolakan publik dan kebijakan yang tidak konsisten terus berlanjut. Di sinilah masa depan data sydney dipertaruhkan: apakah kota ini mampu berinovasi dalam tata kelola, keberlanjutan, dan keterlibatan masyarakat, atau justru tersingkir oleh pesaing yang lebih gesit.
Keberhasilan proyek air daur ulang di Fairfield bisa menjadi cetak biru. Jika Sydney mampu membuktikan bahwa pusat data dapat beroperasi tanpa membebani sumber daya air dan listrik secara berlebihan, resistensi publik mungkin melunak. Namun, tanpa kepastian regulasi dan dukungan politik yang jelas, investor akan berpikir dua kali. Pemerintah federal perlu segera menerbitkan aturan main yang tegas, sementara pemerintah negara bagian harus mempercepat perizinan tanpa mengorbankan standar lingkungan. Kolaborasi antara operator, pemerintah, dan komunitas menjadi harga mati.
Pada akhirnya, dinamika data sydney bukan sekadar cerita tentang kapasitas gigawatt atau miliaran dolar investasi. Ini adalah cermin bagaimana Australia menavigasi transisi menuju ekonomi AI yang inklusif dan berkelanjutan. Tanpa keseimbangan antara ambisi dan akuntabilitas, gelombang investasi yang digadang-gadang bisa surut sebelum sempat membuahkan hasil. Sydney masih memiliki peluang untuk bangkit, asalkan semua pemangku kepentingan belajar dari gejolak yang ada dan berani mengambil langkah perbaikan.











