Berita  

Pangkalan Militer Pakistan Digempur Afghanistan, Tujuh Tentara Tewas dalam Baku Tembak Perbatasan

Pangkalan Militer Pakistan Digempur Afghanistan, Tujuh Tentara Tewas dalam Baku Tembak Perbatasan
Pangkalan Militer Pakistan Digempur Afghanistan, Tujuh Tentara Tewas dalam Baku Tembak Perbatasan

FaktaHari – 30 Oktober 2026 | Ketegangan di perbatasan Afghanistan-Pakistan kembali memanas. Pasukan bersenjata Afghanistan menyerang pangkalan militer Pakistan dan pos pemeriksaan di dekat lokasi kejadian, sebagai respons atas serangan pesawat nirawak (drone) yang dilancarkan militer Pakistan ke wilayah Paktika, Afghanistan. Insiden ini menewaskan sejumlah personel militer Pakistan dan menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas mereka.

Menurut Kementerian Pertahanan Afghanistan, serangan drone Pakistan terjadi pada Selasa (27/10) sekitar pukul 13.00 waktu setempat atau 08.30 GMT. Empat drone menargetkan sebuah pasar di distrik Angoor Ada dan fasilitas keamanan di dekatnya di Provinsi Paktika. Otoritas Afghanistan menyatakan bahwa tidak ada personel Afghanistan yang terluka dalam serangan tersebut. Namun, sebagai upaya membela diri dan melindungi wilayah, pasukan pertahanan dan keamanan Afghanistan melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer Pakistan di dekat lokasi kejadian.

Kementerian Pertahanan Afghanistan mengklaim sejumlah tentara Pakistan tewas dan terluka akibat pertempuran tersebut, serta fasilitas militer mereka mengalami kerusakan parah. Sementara itu, laporan Afghanistan Times Telegram menyebutkan bahwa tujuh personel militer Pakistan tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam bentrokan tersebut. Hingga berita ini diturunkan, pihak Pakistan belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini.

Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan di sepanjang perbatasan kedua negara. Wilayah Paktika dan Angoor Ada memang dikenal sebagai titik rawan konflik. Serangan drone Pakistan ke pasar sipil menuai kecaman, sementara serangan balasan Afghanistan ke pangkalan militer Pakistan menunjukkan eskalasi yang serius. Masyarakat internasional diimbau untuk menahan diri agar konflik tidak meluas.

Di sisi lain, meningkatnya penggunaan drone dalam konflik militer juga menjadi perhatian global. Inggris, misalnya, telah memberlakukan pembatasan wilayah udara di atas ratusan fasilitas militer hingga akhir tahun ini menyusul meningkatnya insiden drone. Menteri Angkatan Bersenjata Inggris, Louise Sandher-Jones, menyatakan bahwa pembatasan telah diberlakukan di 50 fasilitas pertahanan dan akan diperluas ke 170 fasilitas lainnya pada Desember 2026. Data Kementerian Pertahanan Inggris menunjukkan 340 insiden drone di sekitar fasilitas militer selama delapan bulan pertama 2026, meningkat dari 250 insiden sepanjang 2025 dan 126 insiden pada 2024. Pemerintah Inggris menginvestasikan 15 juta pounds untuk sistem penanggulangan drone di pangkalan militer, serta tambahan dana 470 juta pounds untuk infrastruktur keamanan.

Sementara itu, di kawasan Timur Tengah, Amerika Serikat dikabarkan tengah mempersiapkan operasi militer baru terhadap Iran setelah pemilu sela pada 3 November 2026. Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Washington telah mengirim pesan kepada negara-negara Teluk Persia untuk bersiap menghadapi kampanye militer intensif dalam waktu singkat. Militer AS dilaporkan memperkuat kesiapan tempur, termasuk memindahkan sistem rudal Patriot dari Texas ke Timur Tengah, merelokasi personel dari pangkalan yang rentan, serta menyiapkan jet tempur dan pesawat pengebom. Sebuah kapal induk dan unit ekspedisi Marinir akan bergabung dengan sekitar 20 kapal perang AS yang telah berada di kawasan. Namun, Presiden Donald Trump belum menetapkan keputusan akhir, dan Gedung Putih tidak mengonfirmasi rencana tersebut.

Dengan berbagai perkembangan ini, dunia dihadapkan pada dinamika keamanan yang semakin kompleks. Serangan terhadap pangkalan militer di Afghanistan dan Pakistan menjadi pengingat bahwa ketegangan regional dapat dengan cepat meningkat. Sementara itu, langkah preventif seperti yang dilakukan Inggris dan persiapan militer AS menunjukkan bahwa ancaman asimetris dan konvensional masih menjadi prioritas utama dalam kebijakan pertahanan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *