FaktaHari – 28 Oktober 2026 | Pertemuan antara PSV vs Feyenoord di Philips Stadion, Eindhoven, pada Minggu (25/10/2026) berakhir dengan skor 1-1. Namun, hasil imbang tersebut ternyata menyisakan cerita panjang dan getir. Bukan hanya soal pertarungan taktik di lapangan, laga bertajuk psv vs feyenoord ini juga diwarnai insiden di tribun yang membuat nama besar kedua klub tercoreng.
Sejak awal, tensi pertandingan memang sudah terasa. Kedatangan Lutsharel Geertruida ke PSV pada musim panas lalu menjadi bensin bagi emosi suporter Feyenoord. Bek yang sempat menjadi idola di De Kuip itu terus mendapat cemoohan, ejekan, bahkan spreekoor yang menyakitkan telinga. Sayangnya, kebencian itu tak berhenti di lapangan. Setelah pertandingan usai, kekacauan justru pecah.
Insiden Pelemparan dan Spreekoor yang Tak Pantas
Momen memalukan terjadi ketika para pemain Feyenoord mendekati tribun suporter tamu untuk mengucapkan terima kasih. Dari arah tribun PSV, berbagai benda dilemparkan ke arah lapangan. Jurnalis Rijnmond, Dennis Kranenburg, menyaksikan langsung bagaimana situasi memanas. “Setelah ada keributan kecil antara St. Juste dan Geertruida, tiba-tiba banyak benda dilempar ke lapangan dan suara-suara sumbang terdengar,” ujarnya.
Kranenburg bahkan menyoroti sebuah botol minuman yang hampir penuh melintas di atas kepala orang-orang. “Bayangkan jika botol setengah liter itu mengenai kepala seseorang. Ini benar-benar di luar batas,” tegasnya. Aksi balasan dari pihak suporter juga sempat terjadi, membuat emosi semakin memuncak. Rekan sejawatnya, Dennis van Eersel, menambahkan bahwa mengidentifikasi pelaku di tengah kerumunan stadion adalah pekerjaan yang sangat sulit. “Orang-orang larut dalam massa dan anonim. Itulah mengapa kejadian seperti ini terus berulang,” jelasnya.
Tak hanya dari kubu PSV, spreekoor dari suporter Feyenoord yang menyebut penyakit juga mendapat kecaman. “Saya paham Geertruida adalah mantan pemain mereka, tapi tetap saja menyebut nama penyakit itu tidak pantas,” kata Kranenburg. Insiden dalam psv vs feyenoord ini pun menjadi sorotan keras, terutama karena melibatkan mantan pemain yang kini berseragam rival.
Geertruida di Pusat Badai
Lutsharel Geertruida sendiri menjadi sosok sentral dalam drama ini. Sepanjang pertandingan, ia terus diteror oleh suporter Feyenoord. Setelah laga, bek berusia 26 tahun itu mengunggah sesuatu di Instagram yang memicu reaksi keras dari fans Rotterdam. Komentar pedas seperti “Kamu bukan apa-apa lagi untuk kota dan klub ini” hingga “Kamu telah menunjukkan siapa dirimu sebenarnya” membanjiri media sosial. Namun, dukungan juga datang dari pendukung PSV dan rekan-rekannya di Timnas Belanda, yang menuliskan “JONGEN VAN HET ZUIDEN ❤️” dan “Pertandingan bagus, Lutsharel!”
Meski demikian, akar kemarahan suporter Feyenoord sudah terlihat sejak Agustus lalu. Keputusan Geertruida bergabung dengan PSV dianggap sebagai pengkhianatan, bahkan ada yang menyamakannya dengan kepindahan Georginio Wijnaldum ke PSV atau Steven Berghuis ke Ajax. “Geertruida ke PSV lebih parah dari Wijnaldum ke PSV,” tulis seorang netizen kala itu. Kini, drama psv vs feyenoord semakin lengkap dengan luka lama yang kembali menganga.
Analisis Perez: Feyenoord Kehilangan Identitas
Di sisi lain, pertandingan ini juga menyoroti performa Feyenoord. Pengamat Kenneth Perez mengaku terkejut dengan penampilan tim tamu di babak pertama. “Saya agak syok dengan babak pertama Feyenoord. Mereka tidak menemukan solusi melawan pressing PSV. Watanabe benar-benar seperti bayangan dirinya sendiri,” ujar Perez di ESPN. Ia menilai Feyenoord terlalu terburu-buru dan kehilangan ketenangan. “Read bermain sangat kacau, tidak ada ketenangan dalam membangun serangan,” tambahnya.
Meski demikian, Feyenoord mampu bangkit di babak kedua dan menyamakan kedudukan melalui Anis Hadj Moussa setelah PSV unggul lebih dulu lewat Guus Til. Hasil ini membuat jarak keduanya tetap empat poin di klasemen, dengan PSV masih di puncak. Namun, bagi Perez, penampilan Feyenoord di psv vs feyenoord kali ini menjadi alarm bahwa tim asuhan Giovanni van Bronckhorst masih belum konsisten.
Versterking di Tengah Badai Cedera
Di balik hasil imbang, ada kabar baik bagi PSV. Menurut jurnalis Algemeen Dagblad, Maarten Wijffels, beberapa pemain inti seperti Ricardo Pepi, Sami Ouaissa, dan Sam Lammers sudah kembali berlatih dan mendekati comeback. “Kedalaman skuad akan sangat menentukan dalam perebutan gelar. PSV sempat kehabisan pemain dan mengandalkan dua remaja berusia 17 dan 18 tahun,” tulis Wijffels. Sementara itu, Feyenoord juga menghadapi masalah serupa di lini depan, dengan absennya Shaqueel van Persie membuat opsi di bangku cadangan terbatas.
Wijffels juga mencatat bahwa PSV musim ini tidak sekuat musim lalu ketika Ismael Saibari masih ada. “Dulu Saibari bisa menjadi pembeda, sekarang Paul Wanner belum mampu mengisi peran itu,” ujarnya. Meski begitu, PSV masih mengoleksi 20 poin dari 10 laga dan akan menghadapi serangkaian pertandingan sebelum jeda musim dingin.
Dengan segala drama yang terjadi, laga psv vs feyenoord ini bukan sekadar pertarungan sepak bola. Insiden di tribun, cemoohan terhadap mantan pemain, dan performa tim yang naik-turun menjadi cermin bahwa rivalitas kedua klub tetap panas. Namun, di atas segalanya, sportivitas dan rasa hormat harus tetap dijunjung. Kemenangan memang penting, tetapi martabat sebagai suporter dan manusia jauh lebih berharga. Semoga kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari, dan sepak bola kembali menjadi hiburan yang menyatukan, bukan memecah belah.











