Berita  

Duka Mendalam dari Abyei: Serangan Drone Tewaskan 153 Nyawa di Pasar Amiet

Duka Mendalam dari Abyei: Serangan Drone Tewaskan 153 Nyawa di Pasar Amiet
Duka Mendalam dari Abyei: Serangan Drone Tewaskan 153 Nyawa di Pasar Amiet

FaktaHari – 25 Oktober 2026 | Wilayah sengketa Abyei kembali diguncang tragedi kemanusiaan. Setidaknya 153 orang tewas dalam serangan drone yang menghantam pasar Amiet, sekitar 10 kilometer di utara kota Abyei, pada Senin (19/10/2026) sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Serangan ini menjadi salah satu insiden paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di kawasan yang menjadi perebutan Sudan dan Sudan Selatan tersebut.

Otoritas setempat melaporkan bahwa korban tewas telah dimakamkan dalam dua kuburan massal di kedua sisi pasar. Sebagian jenazah sulit diidentifikasi karena luka bakar yang parah. “Jumlah korban dipastikan masih akan bertambah karena proses pencarian dan evakuasi terus berlanjut,” ujar Yohanna Akol Ngor, Penjabat Menteri Informasi Administrasi Abyei. Hingga Rabu (21/10), sekitar 30 korban luka masih dirawat di Rumah Sakit Ameth Bek, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis dengan luka bakar serius.

Pasar Amiet merupakan pusat aktivitas ekonomi bagi komunitas Ngok Dinka dan Misseriya, sekaligus tempat berlindung bagi warga sipil yang terdampak konflik di Sudan. Ledakan menghantam area penyimpanan bahan bakar sehingga api berkobar hebat dan menyulitkan upaya penyelamatan. Tim medis dari Médecins Sans Frontières (MSF) bersama Kementerian Kesehatan Sudan Selatan dikerahkan untuk merawat korban.

Pemerintah Sudan Selatan menuding militer Sudan sebagai pelaku serangan dan telah memanggil duta besar Sudan untuk menyampaikan protes keras. Juba menyerukan penyelesaian sengketa Abyei melalui jalur diplomatik. Sementara itu, seorang perwira tinggi militer Sudan yang berbicara dengan syarat anonim mengklaim bahwa serangan drone tersebut menyasar truk bahan bakar yang diduga memasok pasokan untuk Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Ia menegaskan targetnya adalah penyelundup bahan bakar dan anggota RSF, bukan warga sipil. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Kecaman internasional mengalir deras. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengecam serangan yang menewaskan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Misi Keamanan Sementara PBB untuk Abyei (UNISFA) menyatakan keprihatinan mendalam dan menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan di Abyei. UNISFA telah memperkuat patroli siang dan malam, memberikan bantuan medis darurat, serta memadamkan sebagian besar kebakaran di lokasi. “Kami mengimbau semua pihak menahan diri dari tindakan balasan yang dapat membahayakan warga sipil,” demikian pernyataan UNISFA.

Ketua Komisi Uni Afrika, Mahmoud Ali Youssouf, juga mengutuk keras serangan drone di Sudan dan Abyei yang menewaskan lebih dari 250 orang dalam insiden terpisah. Ia menyerukan penghentian segera serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil, serta menuntut akses kemanusiaan yang aman dan tanpa hambatan. Uni Afrika menegaskan komitmennya terhadap kedaulatan, kesatuan, dan integritas wilayah Sudan.

Di tengah gejolak keamanan, misi perdamaian internasional terus berjalan. Vietnam baru saja menggelar upacara di Hanoi untuk memberangkatkan dua perwira ke misi PBB. Letnan Kolonel Nguyen My Hanh, dosen bahasa Inggris di Akademi Logistik Militer, akan menggantikan Letnan Kolonel Nguyen Van Thu sebagai staf pelatihan senior di UNISFA. Sementara Kapten Truong Tan Huy dari Brigade 954 akan bertugas sebagai pengamat militer di UNMISS, menggantikan Mayor Le Vinh Hoang. Keduanya dipilih berdasarkan kualitas politik, moral, kompetensi profesional, dan kemampuan bahasa asing. Hanh memiliki pengalaman lapangan dari dua penugasan sebelumnya di MINUSCA (2020-2021) dan UNISFA (2023-2024).

Abyei telah lama menjadi titik panas konflik sejak Sudan Selatan merdeka pada 2011. Perjanjian Damai 2005 mengamanatkan referendum untuk menentukan status wilayah, namun hingga kini belum terlaksana akibat perbedaan pendapat mengenai komposisi pemilih. Komunitas Ngok Dinka yang mayoritas menginginkan bergabung dengan Sudan Selatan, sementara Misseriya yang memiliki ikatan sejarah dengan Sudan terus bersaing atas tanah dan sumber daya. Tragedi di pasar Amiet menjadi pengingat kelam bahwa warga sipil terus menanggung beban terberat dari konflik yang tak kunjung usai. Dunia internasional dituntut untuk mendesak penyelidikan independen dan memastikan pertanggungjawaban atas serangan yang merenggut ratusan nyawa di Abyei.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *