FaktaHari – 24 Oktober 2026 | Cuaca Surabaya tengah menjadi sorotan setelah suhu udara dilaporkan mencapai 37 hingga 38 derajat Celsius dalam beberapa hari terakhir. Terik yang menyengat bukan hanya membuat warga gerah, tetapi juga memicu berbagai dampak lanjutan, mulai dari debu proyek yang beterbangan hingga potensi meningkatnya ketegangan sosial. Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) bergerak cepat mengantisipasi dampak cuaca surabaya yang ekstrem ini dengan menggencarkan pembasahan jalan.
Kepala Bidang Pemadaman Kebakaran DPKP Surabaya, M. Rokhim, menjelaskan bahwa pihaknya mengerahkan delapan hingga sepuluh unit mobil pemadam setiap hari untuk menyiram ruas jalan yang berdebu. Langkah ini dilakukan terutama di kawasan yang tengah dilanda proyek pembangunan, seperti pengerjaan box culvert dan saluran drainase. “Pembasahan dilakukan di berbagai wilayah, terutama di sekitar lokasi pengerjaan box culvert dan proyek lainnya yang berpotensi menimbulkan debu. Armada yang dikerahkan menyesuaikan kebutuhan, termasuk berdasarkan laporan warga melalui hotline,” ujar Rokhim, Jumat (23/10).
Beberapa titik yang menjadi sasaran penyiraman pada siang hari antara lain Jalan Tanjungsari, Panjang Jiwo, Lidah Wetan, Dharmahusada, Ahmad Yani, dan kawasan Ngagel. Debu dari aktivitas proyek dikhawatirkan semakin menambah ketidaknyamanan warga di tengah cuaca surabaya yang panas. Tak hanya siang, petugas juga melanjutkan pembasahan pada malam hari dengan fokus menyiram taman-taman pasif di sepanjang jalur protokol untuk menjaga kondisi tanaman di musim kering. Meski demikian, DPKP memastikan tugas utama pemadaman kebakaran tetap menjadi prioritas. “Prioritas utama kami tetap penanganan kebakaran. Setelah tugas pemadaman selesai dan armada kembali mengisi air, petugas dapat melanjutkan pembasahan sesuai pembagian lokasi dan kebutuhan di lapangan,” tegas Rokhim.
Dampak cuaca surabaya yang panas ekstrem juga mendapat perhatian dari akademisi. Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR), Suko Widodo, mengingatkan bahwa suhu tinggi dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Menurutnya, kelelahan fisik dan dehidrasi akibat panas dapat membuat orang lebih mudah tersinggung, sehingga kesalahpahaman kecil di ruang publik berisiko berkembang menjadi pertengkaran. “Ketidaknyamanan tubuh dapat memengaruhi kondisi emosional, sementara emosi akan menentukan pilihan kata, nada bicara, serta cara kita merespons orang lain. Akibatnya, kesalahpahaman kecil di ruang publik bisa dengan mudah berkembang menjadi pertengkaran,” jelas Suko.
Ia mencontohkan jalan raya sebagai salah satu lokasi rawan konflik saat cuaca surabaya memanas. Kemacetan, suara klakson, dan pantulan panas dari aspal dapat mengikis kesabaran pengguna jalan. Suko, yang juga Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur, mengimbau masyarakat untuk mencukupi kebutuhan cairan, beristirahat saat lelah, dan meningkatkan rasa sabar dalam berkomunikasi. “Mari kita tingkatkan rasa sabar dan saling pengertian. Di tengah situasi yang melelahkan akibat cuaca ekstrem, tidak semua perbedaan pendapat atau kesalahan kecil harus direspons dengan kemarahan,” katanya.
Prakiraan BMKG Juanda untuk Surabaya pada Jumat (23/10) menyebutkan cuaca cerah hingga cerah berawan sepanjang hari dengan suhu 28-36 derajat Celsius dan kecepatan angin 25-32 km/jam dari barat hingga barat laut. Sementara itu, untuk wilayah Jawa Timur pada Sabtu (24/10), suhu diprakirakan berkisar 15-39 derajat Celsius, dengan Sidoarjo mencapai 39 derajat Celsius dan Surabaya sekitar 37 derajat Celsius. Cuaca surabaya yang panas ini diperkirakan berlanjut, sehingga warga diminta waspada terhadap dehidrasi dan paparan sinar matahari berlebih.
Kombinasi antara teriknya cuaca surabaya, debu proyek, dan potensi ketegangan sosial menjadi tantangan tersendiri bagi warga dan pemerintah kota. Upaya pembasahan jalan oleh damkar diharapkan dapat mengurangi ketidaknyamanan, sementara imbauan para pakar mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan emosi. Dengan begitu, cuaca surabaya yang ekstrem tidak serta-merta memicu masalah sosial yang lebih luas.











