FaktaHari – 23 Oktober 2026 | Di tengah tekanan jual yang masih membayangi pasar modal Indonesia, aksi korporasi dari kalangan emiten kembali mencuri perhatian. Direktur Utama PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), Agoes Projosasmito, tercatat mulai menampung saham perseroan di tengah penurunan harga yang cukup dalam. Langkah ini menjadi sinyal bahwa keyakinan terhadap prospek jangka panjang emiten pertambangan emas tersebut masih terjaga, meski pasar sedang dilanda ketidakpastian.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan, Agoes melakukan pembelian saham BRMS sebanyak 5,5 juta lembar pada 22 Oktober 2026. Transaksi dilakukan dalam dua tahap dengan kisaran harga Rp446 hingga Rp448 per saham. Pada tahap pertama, ia menyerap 3,3 juta lembar di harga Rp448 dengan nilai Rp1,47 miliar. Selanjutnya, ia menambah 2,2 juta lembar di harga Rp446 senilai Rp981,2 juta. Secara total, orang nomor satu di emiten Grup Bakrie itu merogoh kocek sekitar Rp2,45 miliar untuk mengakumulasi saham tersebut.
Dengan transaksi itu, porsi kepemilikan Agoes di BRMS kini setara 0,0039 persen. Manajemen menyebut aksi ini dilakukan untuk tujuan investasi. Meski porsinya terbilang kecil, langkah pembelian oleh petinggi emiten sering kali dibaca pasar sebagai sinyal positif, terutama ketika harga saham sedang tertekan. Apalagi, saham BRMS tercatat telah merosot 2,70 persen atau 12 poin menjadi Rp432 pada perdagangan sebelumnya.
Penurunan saham BRMS bukan hanya terjadi dalam sehari. Dalam sebulan terakhir, saham emiten tambang emas ini terkelupas 37,84 persen dari level Rp695 pada 23 September 2026. Sejak awal tahun, koreksi saham BRMS bahkan mencapai 63,39 persen dari posisi Rp1.180 pada 2 Januari 2026. Kendati demikian, kapitalisasi pasar BRMS masih berada di angka Rp61,25 triliun dengan rasio harga terhadap laba atau price earning ratio (PER) sebesar 82,62 kali.
Aksi borong saham oleh bos emiten ini terjadi di tengah gelombang buyback yang dilakukan sejumlah perusahaan tercatat. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sedikitnya 17 emiten menyiapkan pembelian kembali saham dengan total nilai mencapai Rp17,12 triliun. Langkah ini dinilai sebagai upaya mendukung stabilitas harga saham sekaligus menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan di tengah gejolak pasar.
Dari daftar tersebut, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyiapkan nilai buyback terbesar, yakni Rp5 triliun, untuk periode 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027. Posisi berikutnya ditempati PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan alokasi Rp2 triliun sepanjang 1 Oktober hingga 31 Desember 2026. Sejumlah emiten lain juga mengalokasikan dana Rp1 triliun, termasuk PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turut masuk dalam kelompok ini. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyiapkan Rp1,17 triliun dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mengalokasikan Rp627 miliar.
Di sisi lain, pasar modal Indonesia juga diwarnai sorotan terhadap emiten terafiliasi konglomerat Prajogo Pangestu, yakni BREN dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa denda Rp600 miliar terkait pelanggaran ketentuan penawaran umum perdana saham (IPO) kedua emiten tersebut. Denda terdiri atas Rp500 miliar untuk penjatahan saham BREN dan Rp100 miliar untuk CUAN. OJK menemukan adanya tindakan menyesatkan dalam pemesanan saham, termasuk pengaburan identitas pemesan yang memperoleh penjatahan dalam jumlah besar.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah meminta data dan dokumen kepada empat anggota bursa penjamin emisi efek serta tiga bank kustodian. OJK juga memanggil sejumlah direksi perusahaan efek dan pihak yang terlibat dalam penjatahan pasti saham. Temuan ini kembali menyoroti perjalanan BREN dan CUAN sejak melantai di BEI pada 2023, yang sempat mencatatkan kenaikan harga saham signifikan.
CUAN lebih dahulu mencatatkan sahamnya pada 8 Maret 2023 dengan harga penawaran Rp220 per saham, dan pada hari pertama perdagangan langsung menguat 24,55 persen ke Rp274. Adapun BREN mencatatkan sahamnya pada 9 Oktober 2023 dengan harga IPO Rp780 per saham. Keduanya menjadi perhatian investor di tengah besarnya kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan terafiliasi Prajogo Pangestu.
Meski pasar dibayangi berbagai sentimen negatif, Danantara Indonesia mengimbau investor untuk tidak terjebak pada sentimen jangka pendek seperti rencana MSCI yang membuka konsultasi penurunan pasar saham Indonesia ke standalone market. Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menilai rencana tersebut tidak berarti kualitas perusahaan Indonesia memburuk. Ia menjabarkan dari 146 emiten dengan pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, terdapat 134 emiten yang membukukan laba, dengan laba agregat semester I-2026 tumbuh 15 persen secara tahunan dan pendapatan tumbuh 7 persen.
Di tengah dinamika tersebut, sejumlah emiten juga masih membagikan dividen tunai kepada pemegang saham. Pada 22 Oktober 2026, empat emiten mencairkan dividen tunai interim tahun buku 2025, yakni PT Victoria Investama Tbk (VICO), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), dan PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN). VICO membayarkan dividen senilai Rp121,8 miliar atau setara 25,7 persen dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp473,99 miliar sepanjang 2025.
Dengan demikian, aksi borong saham oleh bos BRMS menjadi cermin bahwa di tengah tekanan pasar, keyakinan terhadap fundamental emiten masih menjadi faktor utama. Investor diimbau untuk lebih mencermati kinerja perusahaan ketimbang terbawa sentimen jangka pendek, seiring dengan gelombang buyback dan pembagian dividen yang menunjukkan komitmen emiten terhadap pemegang saham. Pasar modal Indonesia memang sedang diuji, tetapi kualitas emiten yang solid menjadi fondasi penting untuk menghadapi tantangan ke depan.











