FaktaHari – 22 Oktober 2026 | Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, kembali menjadi sorotan publik setelah memaparkan capaian investasi nasional yang fantastis di Istana Kepresidenan, Jakarta. Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin malam, 19 Oktober 2026, Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa total realisasi investasi selama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah menembus angka Rp3.923,2 triliun. Angka ini dihitung sejak triwulan IV 2024, sepanjang tahun 2025, hingga triwulan III 2026. Capaian tersebut berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 5.485.944 orang, sebuah prestasi yang menegaskan peran strategis investasi dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam paparannya, Rosan Roeslani merinci bahwa kontribusi investasi di luar Jawa mencapai 51,8 persen atau senilai Rp2.031 triliun, sedangkan investasi di Jawa mencapai 48,2 persen atau Rp1.892,2 triliun. “Total investasi yang masuk mencapai Rp3.923,2 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 5.485.944 orang,” ujar Rosan Roeslani dengan penuh optimisme. Ia juga menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target investasi sebesar Rp13.032,8 triliun untuk periode 2024–2029 guna mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029.
Lebih lanjut, Rosan Roeslani melaporkan realisasi investasi sepanjang Januari hingga September 2026 yang mencapai Rp1.539,2 triliun atau setara 75,4 persen dari target tahunan. Investasi tersebut terdiri atas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp761,4 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp777,8 triliun. Pada kuartal III-2026 saja, realisasi investasi mencapai Rp528,7 triliun, dengan PMA menyumbang Rp270,2 triliun atau naik 27,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp212 triliun.
Dari sisi sektor, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya menjadi penerima PMA terbesar dengan nilai Rp246,6 triliun atau 31,7 persen. Sementara PMDN terbesar berasal dari sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi yang mencapai Rp117,8 triliun atau 15,5 persen. Jika digabungkan, sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi mencatat investasi Rp269,2 triliun atau 17,5 persen. Berdasarkan lokasi, DKI Jakarta mencatat total investasi terbesar sebesar Rp249,3 triliun atau 16,2 persen, disusul Jawa Barat Rp229,1 triliun (14,9 persen), Sulawesi Tengah Rp116 triliun (7,5 persen), Jawa Timur Rp110,5 triliun (7,2 persen), dan Maluku Utara Rp96 triliun (6,2 persen).
Negara asal investasi terbesar diisi oleh Singapura dengan nilai US$14 miliar atau 29,6 persen, diikuti Hong Kong US$12,8 miliar (27,2 persen), China US$5 miliar (10,5 persen), Amerika Serikat US$3,4 miliar (7,1 persen), dan Jepang US$2,6 miliar (5,6 persen). Rosan Roeslani menyoroti bahwa jika investasi Hong Kong dan China digabungkan, nilainya mencapai US$17,8 miliar, lebih besar dibandingkan Singapura. “Kalau Hong Kong dan Tiongkok digabung sudah lebih besar dari Singapura,” jelasnya.
Tidak hanya soal investasi, Rosan Roeslani juga menekankan bahwa arah hilirisasi mineral Indonesia telah mengalami pergeseran paradigma. Hilirisasi tidak lagi sekadar membangun fasilitas pengolahan atau smelter, melainkan membentuk ekosistem industri terintegrasi dari hulu hingga hilir. “Kita adalah rumah bagi beberapa cadangan paling penting di dunia untuk nikel, bauksit, tembaga, dan mineral kritis strategis lainnya. Tujuan kita adalah membangun industri. Itulah sebabnya hilirisasi tetap menjadi pilar utama dari strategi ekonomi kita,” kata Rosan dalam Indonesia Sustainability Forum (ISF) di Jakarta.
Rosan menjelaskan bahwa hilirisasi kini mencakup seluruh rantai industri, mulai dari pertambangan, pengolahan, manufaktur, energi bersih, hingga teknologi. Sektor ini menyumbang sekitar 30 persen dari total investasi Indonesia dengan nilai mencapai 61 miliar dolar AS atau meningkat 7,2 persen. Salah satu contoh pengembangan ekosistem tersebut terlihat pada industri baterai kendaraan listrik. Indonesia mulai membangun rantai produksi yang menghubungkan kegiatan pertambangan dengan pengolahan mineral, pembuatan sel baterai, hingga industri kendaraan listrik. “Ada tiga bidang yang menonjol. Pertama, elektrifikasi. Mulai dari tambang hingga sel baterai hingga mobil listrik. Indonesia kini memproduksi sel baterai di dua pabrik besar bersama Hyundai dan juga dengan CATL serta IBC, perusahaan BUMN kita, yang mulai beroperasi secara bertahap pada bulan Agustus,” jelas Rosan.
Pengembangan rantai nilai mineral juga menjadi fokus Grup MIND ID. Holding BUMN industri pertambangan tersebut menjalankan strategi hilirisasi pada sejumlah komoditas strategis, terutama nikel, bauksit, dan tembaga. Pada komoditas nikel, MIND ID melalui keterlibatannya dalam Indonesia Battery Corporation (IBC) mendukung pembentukan rantai pasok baterai kendaraan listrik nasional. Pengembangan ini menghubungkan potensi sumber daya nikel Indonesia dengan kebutuhan industri baterai dan kendaraan listrik.
Dengan capaian investasi yang solid dan transformasi hilirisasi yang semakin terintegrasi, pemerintah optimistis dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029. Keberhasilan ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja bagi jutaan orang, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global untuk mineral kritis dan energi bersih. Komitmen Rosan Roeslani dalam mendorong ekosistem industri terintegrasi menjadi kunci utama untuk memastikan nilai tambah sumber daya alam tetap dinikmati di dalam negeri.











