FaktaHari – 19 Oktober 2026 | Kota Frankfurt kembali menjadi sorotan dunia sepak bola Eropa. Bukan hanya karena performa tim, tetapi juga karena dinamika di ruang rapat klub yang berujung pada kepergian sosok arsitek utama kesuksesan Eintracht Frankfurt, Markus Krösche. Di saat yang sama, klub-klub besar seperti Tottenham Hotspur mulai mengendus peluang untuk memboyong talenta muda dari Frankfurt, sementara isu sosial terkait kriminalitas di kota ini turut mewarnai pemberitaan.
Keputusan mengejutkan datang pada Minggu malam ketika dewan pengawas Eintracht Frankfurt menggelar rapat luar biasa. Hasilnya bulat: Markus Krösche dibebastugaskan dari jabatannya sebagai Direktur Olahraga atas permintaan sendiri. Pria berusia 46 tahun itu mengaku butuh perubahan setelah lima tahun mengabdi. “Saya telah mengembangkan perasaan bahwa saya membutuhkan perubahan,” ujarnya dalam pernyataan resmi klub. Axel Hellmann pun ditunjuk untuk mengambil alih tugas secara interim.
Meski demikian, kepergian Krösche tidak serta-merta memutus hubungan dengan Frankfurt. Kontraknya yang berlaku hingga 2028 tetap dipertahankan dengan penyesuaian gaji. Artinya, jika ada klub lain yang ingin meminangnya, Eintracht Frankfurt masih berhak mendapatkan kompensasi. Nilai kompensasi yang dimaksud kabarnya mencapai 7,5 hingga 10 juta euro, meski manajemen sempat membantah pernah ada pembicaraan resmi.
Rumor kepindahan Krösche ke AC Milan semakin santer. Pakar transfer Matteo Moretto melaporkan bahwa negosiasi intensif telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Kesepakatan finansial disebut sudah tercapai, tinggal menunggu kesepakatan soal struktur dan pembagian tugas di manajemen olahraga Milan. Jika terwujud, Frankfurt akan kehilangan sosok yang membawa klub meraih gelar Liga Europa 2022 dan dua kali lolos ke Liga Champions.
Di bawah kepemimpinan Krösche, Frankfurt menjelma menjadi klub penjual pemain paling menguntungkan di Eropa. Omar Marmoush dilepas ke Manchester City seharga 75 juta euro, Hugo Ekitike ke Liverpool hampir 100 juta euro, dan Randal Kolo Muani ke Paris Saint-Germain lebih dari 90 juta euro. Padahal, ketiganya datang dengan harga jauh lebih murah. Namun, musim lalu yang buruk, termasuk kegagalan transfer Elye Wahi dan perekrutan pelatih Albert Riera yang dianggap keliru, menjadi pemicu utama pemisahan ini.
Sementara itu, bursa transfer musim dingin mulai menghangat. Tottenham Hotspur dilaporkan terus memantau penyerang muda Jerman milik Eintracht Frankfurt, Younes Ebnoutalib, yang baru berusia 23 tahun. Spurs juga dikabarkan tertarik pada gelandang Jepang asal Freiburg, Yuito Suzuki, sebagai bagian dari rencana Roberto De Zerbi memperkuat skuad. Tak hanya itu, Arsenal dan Tottenham sama-sama mengawasi bek muda Barcelona, Xavi Espart, meski klausul rilisnya yang tinggi menjadi hambatan.
Di luar lapangan hijau, Frankfurt juga menghadapi tantangan sosial. Sebuah video kekerasan yang diduga dilakukan oleh kelompok migran terhadap seorang pelajar di Frankfurt (Oder) menjadi viral dan memicu perdebatan panas. Data yang dirilis oleh pemerintah Jerman menunjukkan bahwa pada 2025 saja, terdapat 18.294 warga Jerman menjadi korban kejahatan terhadap fisik dengan setidaknya satu tersangka warga asing. Angka ini memicu kritik dari berbagai pihak, termasuk partai oposisi yang menilai kebijakan imigrasi perlu dievaluasi.
Kritik juga datang dari pengamat sepak bola lokal. Banyak yang menilai pemecatan Krösche sebenarnya sudah terlambat. “Keputusan ini benar, meski menyakitkan,” tulis seorang komentator ternama Jerman. “Frankfurt butuh arah baru setelah serangkaian kegagalan transfer dan hasil buruk di lapangan.”
Dengan segala hiruk-pikuknya, Frankfurt tetap menjadi magnet bagi klub-klub besar Eropa. Baik untuk merekrut pemain, maupun untuk membajak para petinggi klub. Satu hal yang pasti: masa depan Frankfurt akan sangat bergantung pada siapa yang duduk di kursi kepemimpinan berikutnya.











