Danantara Borong Saham BUMN Saat IHSG Anjlok 11,57%, Sinyal Emas Investor Jangka Panjang?

Danantara Borong Saham BUMN Saat IHSG Anjlok 11,57%, Sinyal Emas Investor Jangka Panjang?
Danantara Borong Saham BUMN Saat IHSG Anjlok 11,57%, Sinyal Emas Investor Jangka Panjang?

FaktaHari – 18 Oktober 2026 | Langkah Danantara Indonesia menjadi sorotan pasar modal Tanah Air. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara itu menyatakan kesiapannya menampung saham-saham emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di tengah tekanan hebat yang melanda Bursa Efek Indonesia (BEI). Pernyataan ini muncul setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 11,57% ke level 5.185 pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Hanya 10 saham yang mampu menguat, sementara 775 saham terkoreksi dan 10 saham stagnan. Sepanjang tahun berjalan (year to date), IHSG telah merosot 40,04% dan tergelincir 19,50% dalam sebulan terakhir.

CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menilai koreksi tajam ini justru membuka peluang investasi jangka panjang. Menurutnya, valuasi perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa, termasuk emiten BUMN, kini berada di level yang sangat rendah. “Kami meyakini, melihat, dan menganalisis bahwa fundamental dari perusahaan-perusahaan kita ini sangat baik. Sangat baik, saya tekankan,” ujar Rosan di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (16/10). Ia menegaskan bahwa Danantara memandang investasi sebagai penempatan modal jangka panjang, bukan sekadar mencari keuntungan dari transaksi jual beli saham dalam waktu singkat.

Rosan menyoroti sektor perbankan pelat merah yang dinilai masih solid. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) disebut memiliki fundamental kuat meski valuasinya berada di bawah one time price-to-book value dan di bawah rata-rata median industri. Selain perbankan, sektor infrastruktur dan telekomunikasi juga menjadi incaran. “Ini peluang untuk berinvestasi dalam jangka panjang,” tambahnya.

Tekanan pasar modal kali ini dipicu oleh pengumuman MSCI Inc yang membuka opsi menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Bila terjadi, Indonesia akan kehilangan statusnya sebagai pasar negara berkembang dan setara dengan negara seperti Argentina, Lebanon, Ukraina, dan Zimbabwe. Meski demikian, Rosan menilai tekanan saat ini lebih dipengaruhi faktor teknikal, rumor, dan sentimen nonfundamental, bukan persoalan fundamental perusahaan. Ia pun meminta pelaku pasar fokus pada fundamental dan optimistis terhadap prospek pasar modal Indonesia.

Sementara itu, di sisi lain, Danantara juga memperkuat sinergi antarlembaga untuk mendorong agenda industrialisasi nasional. Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menggelar pertemuan dengan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, dan Menteri Perdagangan Budi Santoso di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta. Kolaborasi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat industri strategis, konektivitas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sinergi lintas sektor ini diarahkan agar pengembangan industri nasional berjalan selaras dengan kesiapan infrastruktur dan fasilitas transportasi.

Di tengah dinamika energi, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia juga menggelar rapat koordinasi bersama pimpinan DPR, Menteri Investasi, Kepala BP BUMN, Kapolri, Kepala BIN, dan Pertamina. Rapat tersebut membahas ketahanan energi, percepatan distribusi BBM, serta upaya meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan devisa. Bahlil menyebut stok BBM nasional berada di kisaran 16–18 hari dan masih aman, namun ia menyoroti kendala distribusi dari Jawa Timur ke Bali dan beberapa wilayah lain yang bergantung pada kapal. Ia memerintahkan Pertamina menambah jumlah kapal agar distribusi BBM bisa dipercepat.

Tak hanya itu, Danantara Indonesia Trust merayakan satu tahun perjalanannya dengan tema ‘From Commitment to Action’. Melalui kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi pembangunan, dan sektor swasta, Danantara Indonesia Trust memperkenalkan tiga inisiatif strategis: Asa Nusantara, Air Setara, dan Bakti Sehat Nusantara. Inisiatif ini menegaskan komitmen untuk menerjemahkan dukungan filantropi menjadi program yang terukur, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dengan berbagai langkah tersebut, Danantara menunjukkan perannya sebagai katalis dalam menjaga stabilitas pasar modal, mendorong industrialisasi, dan memperkuat ketahanan energi nasional. Bagi investor, koreksi pasar saat ini bisa menjadi peluang emas untuk masuk dengan orientasi jangka panjang, selama fundamental perusahaan tetap menjadi acuan utama. Pemerintah dan Danantara terus berupaya memastikan sinergi lintas sektor berjalan efektif demi menghadapi tantangan global yang tidak menentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *