Sritex di Pusaran Akuisisi Rp100 Triliun, PHK Massal, dan Korupsi Kredit

Sritex di Pusaran Akuisisi Rp100 Triliun, PHK Massal, dan Korupsi Kredit
Sritex di Pusaran Akuisisi Rp100 Triliun, PHK Massal, dan Korupsi Kredit

FaktaHari – 17 Oktober 2026 | PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) kembali menjadi sorotan nasional. Raksasa tekstil yang berbasis di Sukoharjo, Jawa Tengah, itu kini berada di pusaran tiga isu besar: rencana akuisisi oleh Danantara dengan nilai fantastis, gelombang PHK yang menimpa ribuan pekerja, serta penyidikan korupsi kredit yang menjerat mantan direksi. Dinamika ini menempatkan Sritex sebagai cermin kompleksnya industri tekstil dalam negeri di tengah tekanan global dan persoalan internal.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis untuk menyelamatkan Sritex melalui akuisisi. Dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (14/10/2026), Sarmuji menyebut angka kebutuhan dana lebih dari Rp100 triliun. “Tahu saya sih Rp100 triliun lebih,” ujarnya singkat. Meski enggan merinci, ia menegaskan bahwa Kementerian Perindustrian siap mendukung penuh, terutama dalam memperkuat ekosistem pertekstilan nasional. Detail skema transaksi dan pendanaan disebut masih menjadi ranah Danantara sebagai pengelola investasi negara.

Rencana akuisisi ini bukan tanpa alasan. Sritex merupakan salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia dengan empat anak perusahaan dan menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Namun, badai krisis menghantam perusahaan setelah putusan pailit pada Oktober 2024. Dampaknya, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) tak terhindarkan. Pemerintah pun bergerak cepat. Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri, termasuk Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dan Menteri BUMN Erick Thohir, ke Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin (3/3/2025).

Dalam pertemuan itu, Presiden menekankan pentingnya solusi konkret bagi para pekerja Sritex. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen mengawal hak-hak eks pekerja. “Presiden sangat menaruh perhatian terhadap bagaimana pemerintah mencari jalan keluar, terutama berkenaan dengan persoalan yang akan menimpa para pekerja di PT Sritex,” ujarnya. Sementara Menteri Ketenagakerjaan Yassierli memastikan jaminan sosial ketenagakerjaan seperti JHT dan JKP tetap terpenuhi. Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Sukoharjo mencatat karyawan Sritex berhenti bekerja mulai 1 Maret 2025.

Di sisi lain, masalah hukum membelit Sritex. Kejaksaan Agung tengah menyidik dugaan korupsi dalam pemberian kredit kepada Sritex dan entitas anak usahanya. Direktur Utama Sritex, Iwan Kurniawan Lukminto, telah beberapa kali diperiksa sebagai saksi. Pemeriksaan terakhir dijadwalkan pada Rabu (18/6/2025) di Gedung Kejaksaan Agung. “Penyidik akan mendalami peran Iwan Kurniawan selaku direktur tiga anak perusahaan,” kata Kapuspenkum Kejagung Harli Siregar. Sebelumnya, Iwan mengaku dicecar 20 pertanyaan selama 10 jam pada Selasa (10/6).

Kejagung juga telah menetapkan tiga tersangka, yaitu Dicky Syahbandinata (Bank BJB), Zainuddin Mappa (Bank DKI), dan Iwan Setiawan Lukminto (Dirut Sritex 2005–2022). Kasus ini diduga melibatkan aliran kredit dari beberapa bank yang tidak sesuai prosedur. Penyidikan masih terus berjalan untuk mengungkap benang merah penyaluran kredit yang merugikan negara.

Meski demikian, harapan akan kebangkitan Sritex belum sirup. Rencana akuisisi oleh Danantara disebut-sebut akan membentuk BUMN tekstil baru yang mampu bersaing di pasar global. Menteri Perindustrian menegaskan bahwa dukungan pemerintah tidak hanya sebatas pendanaan, tetapi juga pembenahan ekosistem industri dari hulu ke hilir. “Kementerian Perindustrian siap untuk mendukung, terutama ekosistem pertekstilan,” tegas Sarmuji.

Di sisi lain, persoalan Sritex juga menyita perhatian publik di luar konteks industri. Nama Sritex Arena di Solo, Jawa Tengah, bahkan menjadi lokasi pertandingan Indonesian Basketball League (IBL) 2026 antara Kesatria Bengawan Solo dan Bogor Hornbills pada Minggu (8/3/2026). Hal ini menunjukkan bahwa Sritex bukan sekadar entitas bisnis, melainkan bagian dari identitas sosial dan olahraga masyarakat.

Ke depan, masa depan Sritex akan sangat bergantung pada langkah pemerintah dan Danantara dalam merealisasikan akuisisi. Jika berhasil, Sritex dapat menjadi tulang punggung kebangkitan industri tekstil nasional. Namun, jika gagal, ribuan pekerja dan rantai pasok industri akan semakin terpuruk. Yang jelas, publik menanti kejelasan skema dan komitmen semua pihak untuk menyelamatkan Sritex.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *