Berita  

Azerbaijan Dilanda Demonstrasi Anak-Anak Akibat Larangan Hijab di Sekolah, Sementara Proyek Kabel Digital dan Piala Dunia U-20 Tetap Berjalan

Azerbaijan Dilanda Demonstrasi Anak-Anak Akibat Larangan Hijab di Sekolah, Sementara Proyek Kabel Digital dan Piala Dunia U-20 Tetap Berjalan
Azerbaijan Dilanda Demonstrasi Anak-Anak Akibat Larangan Hijab di Sekolah, Sementara Proyek Kabel Digital dan Piala Dunia U-20 Tetap Berjalan

FaktaHari – 17 Oktober 2026 | Gelombang demonstrasi yang melibatkan anak-anak sekolah pecah di berbagai kota di Azerbaijan setelah penerapan aturan seragam sekolah yang membatasi pakaian keagamaan. Sejak pertengahan September 2026, sejumlah sekolah negeri menolak siswi yang mengenakan hijab untuk masuk kelas, memicu protes yang jarang terjadi di negara Kaukasus Selatan tersebut. Demonstrasi ini menjadi sorotan internasional karena melibatkan pelajar, sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya di Azerbaijan.

Menurut laporan yang dihimpun, aturan tersebut berawal dari amandemen Undang-Undang Pendidikan Umum pada 7 Juli 2026 yang memperkuat prinsip sekuler dan mewajibkan peserta didik serta guru mematuhi kode berpakaian. Pada 21 September 2026, pemerintah mengadopsi Resolusi No. 309 yang memperketat aturan seragam sekolah. Resolusi ini melarang pakaian tambahan yang mengganggu seragam standar atau bertentangan dengan pendidikan sekuler. Meskipun tidak secara eksplisit menyebut hijab, beberapa administrator sekolah menafsirkannya sebagai larangan hijab dan menolak siswi yang mengenakannya.

Seorang mahasiswa Indonesia di Baku mengungkapkan bahwa larangan ini telah direncanakan sejak lama. “Baru pada 20 September 2026 kemarin sekolah-sekolah mengumpulkan orang tua para siswa untuk penerapan aturan itu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa siswi yang memakai jilbab diminta menanggalkan hijab atau keluar dari kelas. “Pilihannya cuma ada dua: mengikuti aturan atau tidak sekolah,” tegasnya. Aturan ini juga berlaku bagi para guru, dan telah meluas hingga ke tingkat universitas. Beberapa mahasiswi Indonesia di Azerbaijan dilaporkan menjadi korban dari kebijakan ini.

Protes yang berlangsung hampir sepekan ini tidak hanya diikuti oleh siswi berhijab, tetapi juga oleh teman-teman sekelas mereka, termasuk anak laki-laki, sebagai bentuk solidaritas. Aksi demonstrasi di luar sekolah-sekolah ini menjadi perhatian karena biasanya unjuk rasa di Azerbaijan jarang terjadi dan sering dibubarkan oleh polisi. Pemerintah Azerbaijan tampaknya mengambil langkah serius dengan membatasi akses ke Instagram dan TikTok setelah video protes menyebar di media sosial. Hingga kini, otoritas belum memberikan penjelasan resmi mengenai pemblokiran tersebut.

Di tengah gejolak sosial ini, Azerbaijan terus menunjukkan perkembangan di sektor lain. Pada 6 Oktober 2026, Azerbaijan dan Kazakhstan meresmikan kabel serat optik Trans-Kaspia yang membentang sekitar 380 kilometer di dasar Laut Kaspia, menghubungkan Sumgayit dan Aktau. Proyek ini merupakan bagian dari inisiatif Digital Silk Way dan memiliki kapasitas lebih dari 400 terabit per detik. Kabel ini akan menjadi jalur alternatif untuk lalu lintas data antara Asia dan Eropa, mengurangi ketergantungan pada rute yang melalui Rusia atau Timur Tengah. Presiden Ilham Aliyev menyebut proyek ini sebagai langkah besar dalam memperkuat kerja sama regional. “Hari ini kita telah meluncurkan proyek global,” ujarnya.

Sementara itu, Azerbaijan juga bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2027 bersama Uzbekistan. FIFA telah meluncurkan logo resmi turnamen dengan slogan “U Shape The Game”. Logo tersebut menggabungkan ornamen budaya kedua negara, dengan huruf “U” sebagai pusatnya. Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafström, menyatakan bahwa turnamen ini akan menjadi panggung bagi pemain muda untuk menunjukkan bakat mereka. Presiden AFFA, Rovshan Najaf, yakin bahwa turnamen ini akan meningkatkan minat terhadap sepak bola dan mendukung pengembangan talenta muda.

Kontroversi larangan hijab di Azerbaijan juga memicu ketegangan diplomatik dengan Turki, yang selama ini menjalin hubungan erat. Kritik dari politisi Turki terhadap kebijakan tersebut menimbulkan pertanyaan tentang kebebasan beragama dan kedaulatan Azerbaijan. Pemerintah Azerbaijan berargumen bahwa aturan ini diperlukan untuk menjaga prinsip sekuler dalam pendidikan, sementara para pengkritik menilai bahwa larangan tersebut melanggar hak asasi manusia, khususnya kebebasan beragama dan hak pendidikan yang dijamin oleh konstitusi.

Seorang guru sastra di Baku dengan pengalaman 40 tahun, yang enggan disebutkan namanya, mendukung penegakan aturan seragam. Menurutnya, anak-anak terlalu muda untuk membuat keputusan tentang pakaian keagamaan. Namun, banyak orang tua yang tidak setuju dan memilih memindahkan anak mereka ke sekolah swasta, meskipun ada kekhawatiran bahwa larangan serupa akan segera diterapkan di sana. Hingga saat ini, protes terus berlanjut dan menjadi ujian bagi pemerintah Azerbaijan dalam menyeimbangkan antara kebijakan sekuler dan hak-hak warganya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *