FaktaHari – 17 Oktober 2026 | Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi sorotan publik setelah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Kota Cimahi beberapa hari lalu. Sidak tersebut mengungkap berbagai permasalahan tata kota, mulai dari kebersihan sungai, keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang semrawut, hingga maraknya penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) seperti gelandangan dan pengemis yang berkeliaran di pusat kota. Sorotan tajam dari Dedi Mulyadi ini langsung memicu reaksi cepat dari Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi yang terlihat kelabakan menata kembali kotanya.
Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, mengakui bahwa pihaknya langsung bergerak setelah mendapat sorotan dari Gubernur Dedi Mulyadi. “Ya beberapa hari lalu Pak Gubernur sidak, menyoroti soal keindahan dan kebersihan kota. Lalu keberadaan PKL dan PMKS. Memang dilema, mereka mencari penghidupan tapi ada aturan yang dilanggar,” ujar Adhitia saat ditemui di Alun-alun Kota Cimahi, Jumat (16/10/2026).
Adhitia menuturkan, pada Jumat pagi saja, ia menemukan tiga PMKS yang tidur di kursi taman Alun-alun Kota Cimahi. Setelah berbincang, terungkap bahwa para gelandangan dan pengemis tersebut bukan warga asli Cimahi, melainkan pendatang dari luar daerah. “Pagi-pagi saja saya temukan 3 orang, saya tanya salah satunya datang jauh-jauh dari Sibolga, Sumatera Utara. Dia ke sini mau mencari kerja, tapi tidak dapat akhirnya jadi pemulung. Kemudian satu lagi ada yang dari Cikalongwetan, KBB. Tidak ada yang asli Cimahi,” jelasnya.
Menindaklanjuti sorotan Dedi Mulyadi, Pemkot Cimahi langsung menginstruksikan jajaran terkait untuk melakukan penataan, terutama di kawasan exit Tol Baros hingga Alun-alun Kota Cimahi. “Saya sudah sering sampaikan, penataan kota termasuk keindahan dan kebersihan itu utamakan dulu dari exit tol (Baros) sampai daerah Pasar Atas. Itu sebetulnya sudah masuk ke RPJMD, tapi karena satu situasi, jadi tidak bisa terlaksana sekarang,” kata Adhitia. Ia juga menambahkan bahwa Gubernur Dedi Mulyadi kabarnya akan kembali melakukan sidak untuk menilai komitmen pemerintah daerah dalam memperbaiki tata kota.
“Yang saya pahami, Pak Gub menekankan wajah kota harus cantik, tidak ada PMKS, PKL liar, bersih dari sampah. Itu yang utama, makanya hari ini kita kerahkan semua bersih-bersih sebelum disidak lagi,” pungkas Adhitia.
Sementara itu, di tengah kesibukannya mengawasi pembangunan daerah, Dedi Mulyadi juga menyoroti dinamika politik nasional. Dalam sebuah video lawas yang kembali viral setelah diunggah ulang oleh Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, Dedi Mulyadi memberikan peringatan tegas kepada para elite politik agar tidak meremehkan kemampuan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurut Dedi Mulyadi, kemampuan politik putra sulung Presiden ke-7 Joko Widodo itu tidak bisa dinilai hanya dari penampilan, gaya bicara, maupun sikap yang terlihat di publik.
“Hati-hati terhadap Mas Gibran. Yang lain politisinya polos-polos, bersikap hanya dengan kata-katanya, tapi tidak dengan rasanya, yang ini hati-hati,” cetus Dedi Mulyadi dalam video yang dikutip, Jumat (15/10/2026).
Dedi Mulyadi juga mengajak publik untuk memperhitungkan latar belakang keluarga Gibran, termasuk pendidikan budaya Jawa dan tradisi Solo yang kental. “Dia itu adalah anak Pak Jokowi. Karena anaknya Pak Jokowi, dia ngerti betul kebudayaan Jawa. Dia ngerti betul bagaimana tradisi Solo. Mas Gibran pasti mendapat pendidikan sangat kuat tentang etika, tentang budi pekerti dalam keluarga, dalam bahasa kesehariannya tentang adab,” tambahnya.
Pernyataan Dedi Mulyadi ini menegaskan bahwa ia tidak hanya fokus pada persoalan tata kelola pemerintahan di daerah, tetapi juga memiliki pandangan tajam terhadap peta politik nasional. Sosoknya yang vokal dan kerap turun langsung ke lapangan membuat setiap kebijakan dan ucapannya selalu menjadi perhatian publik.
Kesimpulannya, sorotan Dedi Mulyadi terhadap kesemrawutan Kota Cimahi telah memicu respons cepat dari Pemkot Cimahi untuk berbenah. Sementara itu, peringatannya tentang Gibran Rakabuming Raka menunjukkan bahwa Dedi Mulyadi adalah figur yang tidak bisa diabaikan dalam dinamika politik Indonesia. Baik dalam urusan tata kota maupun politik nasional, Dedi Mulyadi konsisten menyuarakan pentingnya integritas dan pemahaman mendalam terhadap budaya serta etika.











