Berita  

Kekeringan Ekstrem Landa Indonesia: Bima 145 Hari Tanpa Hujan, Jatim Rugi Ratusan Hektare Lahan

Kekeringan Ekstrem Landa Indonesia: Bima 145 Hari Tanpa Hujan, Jatim Rugi Ratusan Hektare Lahan
Kekeringan Ekstrem Landa Indonesia: Bima 145 Hari Tanpa Hujan, Jatim Rugi Ratusan Hektare Lahan

FaktaHari – 15 Oktober 2026 | Fenomena kekeringan ekstrem yang dipicu oleh El Nino superkuat kini melanda sejumlah wilayah di Indonesia, menimbulkan dampak serius terhadap ketersediaan air bersih dan sektor pertanian. Data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa beberapa daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB) telah mengalami hari tanpa hujan (HTH) hingga 145 hari, menjadikannya salah satu periode kekeringan terpanjang yang pernah tercatat.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin BMKG Bima, Moch. Syaiful Annas, mengungkapkan bahwa pos Belo dan Bolo di Kabupaten Bima mencatat periode tanpa hujan selama 145 hari hingga 14 Oktober 2026. Sementara itu, Kecamatan Pajo di Kabupaten Dompu mengalami HTH selama 142 hari, dan wilayah Asakota serta Raba di Kota Bima mencatat 139 hari tanpa hujan. Kondisi ini, menurut Annas, disebabkan oleh dinamika atmosfer yang belum mendukung pembentukan awan hujan secara signifikan. El Nino masih berada pada kategori sangat kuat dengan indeks ENSO Nino 3.4 mencapai plus 2,76 derajat Celsius, sementara monsun timuran yang aktif turut membatasi peluang pertumbuhan awan. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) serta gelombang atmosfer lainnya juga belum aktif di wilayah Indonesia, sehingga peluang hujan masih sangat kecil.

Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan di NTB. Di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur, sebanyak 3.856 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jatim mencatat bahwa dari total lahan terdampak, 597,11 hektare sawah padi mengalami kekeringan dan 149,95 hektare di antaranya telah puso atau gagal panen total. Kepala DPKP Jatim, Heru Suseno, menegaskan bahwa lahan yang terdampak belum tentu gagal panen, namun status puso diberikan ketika tanaman tidak dapat dipulihkan akibat kekurangan air. Pemerintah pusat dan daerah telah berkoordinasi untuk mengantisipasi meluasnya dampak, termasuk menyiapkan bantuan benih melalui P-APBD 2026 untuk lahan hingga 1.000 hektare.

Sementara itu, di wilayah timur Indonesia, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Paniai, Papua Tengah, terus menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Memasuki hari ketiga pelayanan, tim PMI mendatangi permukiman warga di wilayah Awabutuh, kawasan Bandara, dan sekitarnya untuk memastikan masyarakat mendapatkan akses air bersih bagi kebutuhan sehari-hari. Langkah serupa juga dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, yang bergerak cepat mendistribusikan air bersih ke tujuh kecamatan setelah pasokan PDAM terhenti akibat pemadaman listrik. Bupati Bintan, Roby Kurniawan, langsung turun ke lapangan untuk meninjau distribusi dan memastikan warga yang membutuhkan mendapatkan bantuan.

Fenomena El Nino yang memicu kekeringan ini diprediksi akan bertahan hingga Februari 2027. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan probabilitas El Nino bertahan hingga periode tersebut mendekati 100 persen. Indeks Nino 3.4, yang mengukur anomali suhu permukaan laut di Pasifik ekuatorial, meningkat drastis dari rata-rata 1,6 derajat Celsius di atas normal pada Juni 2026 menjadi 2,5 derajat Celsius pada Agustus 2026. Untuk Oktober hingga Desember 2026, anomali suhu musiman diperkirakan mencapai sekitar 3,7 derajat Celsius, melampaui rekor sebelumnya sebesar 2,6 derajat Celsius pada November 2015 hingga Januari 2016. WMO menyatakan bahwa El Nino berpotensi meningkatkan suhu di sebagian besar wilayah dunia sekaligus mengubah pola curah hujan, meningkatkan risiko kekeringan dan banjir di berbagai kawasan. Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menjelaskan bahwa El Nino tidak menambahkan panas baru ke planet ini, melainkan melepaskan panas yang telah tersimpan di bawah permukaan laut, sehingga peristiwa yang intens biasanya menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat.

Kekeringan yang melanda berbagai wilayah Indonesia ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus berupaya melakukan langkah-langkah mitigasi, seperti distribusi air bersih dan bantuan benih bagi petani. Namun, dengan prediksi El Nino yang masih akan berlangsung lama, masyarakat diimbau untuk bijak dalam menggunakan air dan selalu memantau informasi cuaca dari BMKG. Solidaritas dan kerja sama antarwarga menjadi kunci untuk melewati masa sulit ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *