FaktaHari – 13 Oktober 2026 | Sebuah penemuan tak terduga mengguncang kawasan Cigombong, perbatasan Sukabumi-Bogor, Jawa Barat, pada tahun 1946. Saat Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama warga setempat tengah menggali bekas markas tentara Jepang untuk mencari senjata guna menghadapi Belanda, mereka justru menemukan sebuah guci besar berisi harta karun berupa emas dan berlian. Peristiwa ini menjadi salah satu kisah paling fenomenal dalam sejarah Indonesia, mengingat nilai harta karun tersebut diperkirakan mencapai Rp 6 miliar pada masanya, atau setara dengan sekitar Rp 16,8 miliar jika dihitung dengan harga emas saat ini.
Isi Guci: Kaus Kaki Berisi Emas dan Berlian
Kisah penemuan ini tercatat dalam buku Dari Cilampeni ke New York (2001) karya Haji Priyatna Abdurrasyid. Menurut catatan tersebut, Sersan Mayor Sidik bersama beberapa anggota polisi tentara dan warga menemukan sebuah guci besar. Ketika guci dibuka, mereka mendapati sejumlah kaus kaki yang berisi benda keras. Setelah dibuka satu per satu, kaus kaki itu ternyata menyimpan emas, permata, dan berlian yang sudah dicongkel-congkel. Total temuan mencapai sekitar 7 kilogram emas dan 4 kilogram berlian, yang diperkirakan berasal dari Perkebunan Pondok Gede, Bogor.
Diserahkan ke BNI-46
Harta karun tersebut kemudian dibawa ke Yogyakarta dan diserahkan kepada Bank Negara Indonesia (BNI-46) yang saat itu dipimpin oleh Raden Mas Margono Djojohadikusumo, kakek dari Menteri Pertahanan RI saat ini. Langkah ini menunjukkan semangat patriotisme para penemu yang memilih untuk menyerahkan temuan berharga tersebut kepada negara, bukan untuk kepentingan pribadi.
Penemuan Serupa di Wonoboyo, Klaten
Kisah harta karun tidak berhenti di Cigombong. Pada Oktober 1990, di Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah, enam warga yang tengah menggali tanah uruk secara tidak sengaja menemukan guci berisi perhiasan emas dan perak. Salah seorang penemu, Widodo, menceritakan bahwa saat mencangkul, mereka mengenai guci pada kedalaman sekitar tiga meter. Temuan ini disebut sebagai salah satu penemuan maha karya dan terbesar sepanjang sejarah Indonesia, dengan berbagai bentuk perhiasan seperti gelang dan cincin.
Stamp Hunting: Berburu Harta Karun Modern
Di sisi lain, konsep berburu harta karun juga hadir dalam bentuk yang lebih modern dan ringan, yakni stamp hunting atau berburu stempel. Aktivitas ini populer di Jepang dengan istilah stamp rally, di mana pengunjung mengumpulkan stempel dari stasiun kereta, tempat wisata, hingga acara khusus. Setiap stempel memiliki desain unik yang merepresentasikan lokasi, sehingga koleksi stempel menjadi kenangan personal yang tak tergantikan.
Menurut Christian Jarrett, ahli saraf kognitif, proses berburu stempel memberikan sensasi petualangan kecil dan kepuasan saat berhasil menambahkannya ke koleksi. Dr. Shirley M. Mueller menambahkan bahwa mengoleksi sesuatu memberi kegembiraan dan kesenangan, yang menjadi pendorong utama dalam aktivitas ini. Banyak orang merasa nostalgia saat melihat kembali stempel yang telah dikumpulkan, mengingatkan mereka pada perjalanan dan momen-momen berharga.
Perosotan Selecta: Harta Karun Bersejarah di Batu
Selain emas dan stempel, harta karun juga bisa berupa warisan sejarah yang tetap lestari. Di Taman Rekreasi Selecta, Kota Batu, Jawa Timur, terdapat perosotan kolam renang legendaris yang telah berdiri sejak tahun 1930. Perosotan setinggi 15 meter dengan panjang lintasan 30 meter ini menggunakan kayu ulin, kayu khas Kalimantan yang kuat, tahan air, dan lentur. Konstruksi besi asli dari tahun 1930 masih bertahan, dengan sistem peredam kejut yang membuatnya aman digunakan. Pengelola hanya mengganti papan aluminium setiap tiga tahun sekali, sementara kerangka besi tetap kokoh hingga kini.
Kesimpulan
Dari penemuan emas kerajaan di Cigombong, berburu stempel di berbagai destinasi, hingga perosotan bersejarah di Selecta, harta karun hadir dalam berbagai bentuk. Setiap temuan menyimpan cerita, nilai sejarah, dan kepuasan tersendiri bagi yang menemukannya. Harta karun tidak selalu berupa logam mulia; bisa juga berupa pengalaman, kenangan, atau warisan budaya yang tetap terjaga lintas generasi. Semua itu mengingatkan kita bahwa keindahan dan kekayaan sejati sering kali ditemukan di tempat-tempat yang tak terduga.











