FaktaHari – 10 Oktober 2026 | Pemasangan dan pengawasan CCTV menjadi sorotan utama dalam berbagai insiden keamanan yang terjadi di beberapa negara. Di India, Universitas Delhi (DU) baru-baru ini menginstruksikan seluruh kolese, departemen, dan asrama untuk melakukan audit keamanan menyeluruh, termasuk memeriksa kondisi CCTV, penerangan jalan, dan area yang minim cahaya. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran akan keselamatan mahasiswi di lingkungan kampus.
Dalam pertemuan online yang dipimpin oleh Proktor DU, Manoj Singh, pada Jumat lalu, diputuskan bahwa laporan hasil audit harus diserahkan paling lambat 12 Oktober. Singh menjelaskan bahwa tujuan dari audit ini adalah untuk mengidentifikasi titik-titik buta (blind spot) dan memperbaiki infrastruktur yang rusak, seperti lampu yang tidak berfungsi dan pemasangan CCTV yang strategis. “Kami ingin mengumpulkan data tentang apa yang perlu ditingkatkan, sehingga kami bisa memberikan laporan kepada Gubernur dan Kepala Menteri untuk tindakan lebih lanjut demi keamanan kampus dan perempuan,” ujar Singh.
Selain itu, universitas juga mempertimbangkan penambahan pos polisi khusus perempuan (pink booths), peningkatan patroli polisi, serta pelatihan bela diri selama tujuh hari bagi mahasiswa. Nomor darurat 1091 dan 112 juga akan dipasang di area kampus. Pemerintah Delhi sendiri tengah merencanakan inspeksi terhadap 100 rumah kos (PG) dan mewajibkan pencadangan CCTV (backup) sebagai bagian dari aturan baru yang sedang disusun. Hal ini menunjukkan keseriusan otoritas dalam memanfaatkan teknologi pengawasan untuk mencegah tindak kriminal.
Sementara itu, di Singapura, rekaman CCTV menjadi bukti kunci dalam sebuah insiden pencurian di toko wewangian di Bussorah Street. Dalam rekaman yang diunggah di media sosial, terlihat seorang wanita yang diduga turis menyelinapkan botol parfum ke dalam tasnya saat suaminya sedang asyik melihat-lihat. Pemilik toko melaporkan kehilangan dua botol parfum dan telah membuat laporan polisi. Kejadian ini memicu perdebatan di kalangan warganet tentang pentingnya kewaspadaan dan etika berbelanja.
Di sisi lain, di Ratnagiri, India, pemerintah daerah memutuskan untuk memasang CCTV di setiap pusat kesehatan primer (PHC) sebagai langkah meningkatkan keamanan. Keputusan ini diambil dalam rapat komite kesehatan dan akan diterapkan secara bertahap di 60 PHC yang ada. Langkah ini dinilai penting mengingat seringnya terjadi insiden kekerasan atau gangguan di fasilitas kesehatan.
Tidak hanya itu, rekaman CCTV juga menjadi sorotan dalam kasus penembakan yang dilakukan oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) di New York. Dalam video yang beredar, terlihat petugas ICE menembak seorang pria yang sedang mengemudi dengan anaknya di kursi belakang. Peristiwa ini memicu kemarahan publik dan protes yang menuntut agar otoritas imigrasi meninggalkan kota tersebut. Rekaman tersebut menjadi bukti penting yang memperkuat tuntutan reformasi kebijakan imigrasi.
Dari berbagai peristiwa ini, jelas bahwa CCTV tidak hanya berfungsi sebagai alat pencegah kejahatan, tetapi juga sebagai saksi bisu yang dapat mengungkap fakta di balik suatu insiden. Mulai dari lingkungan kampus, pusat perbelanjaan, fasilitas kesehatan, hingga jalan raya, kamera pengawas telah menjadi bagian integral dari upaya menjaga keamanan dan ketertiban. Pemanfaatan teknologi ini harus diimbangi dengan kebijakan yang jelas dan perlindungan data pribadi agar tidak disalahgunakan.
Ke depan, kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan aparat keamanan dalam mengoptimalkan penggunaan CCTV diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua. Audit berkala, pemeliharaan rutin, dan integrasi dengan sistem keamanan lainnya menjadi kunci keberhasilan. Masyarakat pun diimbau untuk selalu waspada dan melaporkan setiap aktivitas mencurigakan yang terekam oleh kamera pengawas di sekitar mereka.











