FaktaHari – 08 Oktober 2026 | Bencana hidrometeorologi kembali mengintai Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir rob dan gelombang laut sangat tinggi yang diperkirakan melanda sejumlah pesisir Bali pada 8 hingga 18 Oktober 2026. Masyarakat pesisir diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak buruk yang mungkin timbul akibat fenomena alam ini.
Berdasarkan analisis BMKG, gelombang setinggi 4 hingga 6 meter diprediksi menerjang Selat Lombok bagian selatan pada 8-11 Oktober 2026. Kondisi ini sangat berbahaya bagi semua jenis pelayaran, terutama perahu nelayan, kapal tongkang, kapal feri, hingga kapal besar. Selain itu, gelombang tinggi 2,5-4 meter juga berpotensi terjadi di Perairan Selatan Pulau Bali dan Selat Badung, sementara perairan utara Bali diperkirakan mengalami gelombang 1,25-2,5 meter.
Tak hanya gelombang tinggi, potensi banjir rob atau banjir pesisir akibat air laut pasang juga diperkirakan terjadi pada 9 hingga 18 Oktober 2026. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi pesisir selatan Kabupaten Jembrana, pesisir selatan Kabupaten Tabanan, pesisir Kabupaten Badung, pesisir Kota Denpasar, pesisir Kabupaten Gianyar, dan pesisir selatan Kabupaten Klungkung. Masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut diminta untuk waspada terhadap genangan air laut yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, ancaman banjir juga menghantui wilayah lain di Indonesia. Di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah memetakan delapan desa yang masuk kategori rawan banjir bandang dan longsor. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Diki Sudrajat, menyebutkan desa-desa tersebut antara lain Desa Panenjoan, Nanjungmekar, Cikalong, Pasirmulya, Buninagara, dan Wargaluyu. BPBD pun gencar melakukan sosialisasi dan telah menyebarkan surat peringatan dini kepada seluruh pemangku kepentingan di daerah rawan bencana.
Di tingkat regional, Thailand juga dilanda banjir besar yang berdampak serius pada sektor peternakan. Pemerintah Thailand mendesak perusahaan untuk memangkas ekspor telur ayam hingga 30-50% karena jutaan ayam petelur mati akibat banjir yang melanda Provinsi Chachoengsao. Banjir yang telah menerjang 51 provinsi sejak 16 September lalu juga menewaskan 31 jiwa dan memaksa ribuan warga mengungsi. Kondisi ini menunjukkan betapa dahsyatnya dampak banjir tidak hanya terhadap keselamatan jiwa, tetapi juga terhadap rantai pasok pangan dan perekonomian suatu negara.
Di tengah meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi, berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi risiko. Selain langkah-langkah teknis seperti pemetaan dan sistem peringatan dini, aspek spiritual juga tak luput dari perhatian. Dalam tradisi Islam, terdapat doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk dibaca saat hujan deras yang dikhawatirkan menyebabkan banjir. Doa tersebut memohon agar hujan turun di tempat-tempat yang bermanfaat, seperti dataran tinggi, gunung, bukit, dan lembah, bukan di pemukiman warga. Hal ini mengingatkan bahwa selain kesiapsiagaan fisik, kekuatan doa juga menjadi bagian penting dalam menghadapi cobaan alam.
Kesimpulannya, rangkaian peristiwa banjir di berbagai wilayah, mulai dari ancaman rob di pesisir Bali, banjir bandang di Jawa Barat, hingga banjir besar di Thailand, menjadi alarm bagi kita semua. Perubahan iklim dan cuaca ekstrem semakin nyata. Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi cuaca dari BMKG dan instansi terkait, serta mengikuti arahan evakuasi jika diperlukan. Kesiapsiagaan dan kewaspadaan merupakan kunci utama dalam mengurangi risiko bencana banjir di masa mendatang.











